Ini Cara Bulog Jatim Jaga Stok Awal Tahun 800.000 Ton

Perum Bulog (Persero) Divisi Regional Jawa Timur mengaku pasokan beras yang dimilikinya hingga saat ini aman, baik dari lini raskin maupun cadangan beras pemerintah jenis medium dan premium.
Wike Dita Herlinda | 10 Januari 2015 21:30 WIB
Metode kedua adalah Cocoon. - Bisnis.com

Bisnis.com, SURABAYA—Perum Bulog (Persero) Divisi Regional Jawa Timur mengaku pasokan beras yang dimilikinya hingga saat ini aman, baik dari lini raskin maupun cadangan beras pemerintah jenis medium dan premium.

Kepala Bulog Divre Jatim Witono melaporkan bahwa pasokan beras Jawa Timur saat ini mencapai 800.000 ton, sedangkan target stok Jatim untuk tahun ini dipatok 1,1 juta ton.

“Tidak hanya yang medium, kami juga mengelola yang premium. Jumlah beras premium di gudang kami ada 250.000 ton. Sementara itu, total cadangan ada 800.000 ton, itu masih lebih dari cukup untuk dikirim ke Papua, NTT, Maluku, dan Aceh,” katanya Sabtu (10/1/2015).

Bulog Jawa Timur merupakan menyumbang 30% lebih cadangan beras pemerintah, yang ditarget harus ada minimal 2 juta ton per tahun. Menjelang musim panen pada Februari, Witono memastikan pasokan untuk wilayah Jawa Timur aman.

Menteri BUMN Rini Soemarno berpesan agar Bulog Jatim lebih memerhatikan sistem penyimpanan beras, khususnya untuk raskin. Pasalnya, selama ini dirinya mendapat banyak keluhan tentang kualitas raskin yang kurang baik.

Beras di gudang Bulog Subdivre Surabaya Utara—yang memasok beras untuk wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo—disimpang dengan menggunakan dua metode. Pertama, CO2 Stack, yang mana lama penyimpanan dapat mencapai 12 bulan.

Selain itu, metode tersebut memastikan kualitas dan kuantitas beras tetap sama saat awal pasok, bermanfaat apabila jumlah pasokan besar, menghindari serangan hama, dan tidak perlu menggunakan spray/fumigasi, hanya dilakukan monitoring konsentrasi CO2 dalam sungkup setiap 15 hari dengan batas maksimal 10%.

Metode kedua adalah Cocoon, yang memastikan lama penyimpanan mencapai 12 bulan, kualitas dan kuantitas terjaga, terhindar dari hama, serta hanya perlu dilakukan monitoring O2 dalam sungkup setiap 15 hari dengan batas maksimal 3%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bulog

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top