Produksi Garam, Strategi KKP Realisasikan Target 3,3 Juta Ton

Produksi garam pada tahun ini diyakini bisa mencapai 3,3 juta ton dari 28.000 hektare lahan yang akan dioptimalkan.
Produksi Garam, Strategi KKP Realisasikan Target 3,3 Juta Ton Redaksi | 07 Januari 2015 17:13 WIB
Produksi Garam, Strategi KKP Realisasikan Target 3,3 Juta Ton
Petani garam - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Produksi garam pada tahun ini diyakini bisa mencapai 3,3 juta ton dari 28.000 hektare lahan yang akan dioptimalkan.

Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi garam pada 2014 lebih dari  2,5 juta ton atau melebihi target yang ditetapkan. Dari total produksi garam itu, garam berkualitas KP1 (basah) baru mencapai 35 persen.

"Produksi garam 3,3 juta ton Insya Allah bisa tercapai. Pada 2014, dengan kemarau hanya 3,5 bulan saja sudah bisa melebihi target. Seandainya kemarau normal pada 2015, harapannya bisa mencapai target," kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP Riyanto Basuki dalam jumpa pers, Rabu (7/1).

Dia berharap pada 2015 bisa meningkat 50 persen-60 persen mencapai target kualitas garam KP1.

Menurut Riyanto, ada sejumlah kendala yang dihadapi dalam upaya meningkatkan kualitas garam, seperti masalah lahan yang terfragmentasi, teknologi dan kebiasaan petani garam atau penambak.

Namun, Kementerian akan terus berupaya untuk mengatasi kendala tersebut guna meningkatka produktivitas dan kualitas garam demi memenuhi target produksi 2015.

Dijelaskannya, guna meningkatkan produktivitas dan kualitas garam, pihaknya menilai perlu dilakukan "penyatuan lahan".

Pasalnya, saat ini pengusaan lahan per petani garam yang mencapai 0,27 hektare itu masih dianggap tidak efisien.

"Idealnya 5 hektare untuk melakukan kegiatan garam lebih efisien dan menghasilkan garam yang kualitasnya lebih baik. Meski penyatuan lahan ini memang agak kompleks karena menyangkut kepemilikan," ujarnya.

Selanjutnya, kata Riyanto, petani garam perlu memaksimalkan penggunakan sistem Teknologi Ulir Filter (TUF) serta menerapkan pengolahan produksi dengan sistem geomembran untuk meningkatkan kualitas garam.

"Dengan TUF, evaporasi akan berlangsung lebih cepat sehingga air tua bisa cepat terbentuk untuk menghasilkan kristal garam," tuturnya.

Masalah lain yang juga tak kalah penting, tambah Riyanto, adalah kebiasaan petani garam yang kerapkali memanen dalam waktu tiga hingga empat hari sejak air tua berubah jadi garam. Menurut dia, dengan waktu sesingkat itu, kualitas garam menjadi rendah.

"Maka kami minta agar ditahan lebih lama, minimal 10 hingga 15 hari supaya kualitasnya lebih baik," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garam

Sumber : Antara

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top