JAKARTA FASHION WEEK 2015: Menteri Pariwisata Berharap Industri Fesyen Bisa Tumbuh 2 Kali Lipat

Pemerintah Indonesia mengharapkan pertumbuhan industri fesyen di Tanah Air mampu meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan capaian saat ini yang mencapai sekitar 7% saja.
Puput Ady Sukarno | 02 November 2014 15:46 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengharapkan pertumbuhan industri fesyen di Tanah Air mampu meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan capaian saat ini yang mencapai sekitar 7% saja.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkan bahwa potensi industri kreatif di Tanah Air, termasuk fesyen, mampu menyumbang raihan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 7% dengan nilai Rp650 triliun dan tenaga kerja sebesar 12 juta orang.

Sementara itu, lanjutnya saat ini dari 15 sektor yang termasuk dalam industri kreatif tersebut, khusus sektor mode atau fesyen mampu menyumbangkan kontribusi terbesar dalam PDB tahun lalu, yakni sekitar 30% dengan nilai sekitar Rp200 triliun.

"Pertumbuhan rata-ratanya hanya 6%-7%. Harusnya bisa dobel itu, lebih bagus," tuturnya disela pembukaan Jakarta Fashion Week 2015 di Senayan City, Sabtu (1/11/2014).

Pihaknya juga berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan industri kreatif di Indonesia meskipun nama kementeriannya saat ini hanya Kementerian Pariwisata dan tidak memakai ekonomi kreatif.

"Nanti akan ada Badan Pengelola Ekonomi Kreatif, sehingga pekerjaannya menjadi lebih fokus lagi. Jadi ekonomi kreatif tetap ada dan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan akan bersama-sama memajukannya," ujarnya.

Pihaknya mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi pengembangan selain fokus melanjutkan program Indonesia Fashion Forward (IFF) yang telah dibangun selama 3 tahun terakhir yang terbukti hasilnya cukup membanggakan.

IFF adalah program inkubasi yang digagas Jakarta Fashion Week bekerjasama dengan British Council, Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif (kini Kementerian Pariwisata) dan Center for Fashion Enterprise. Pada puncak program IFF adalah dipresentasikan hasilnya dalam Jakarta Fashion Week.

"Ke depan kami akan mengambil langkah ekspansi internasional, dengan mengembangkan strategi yang kami sebut bussines follow the people," ujarnya.

Menurutnya konsep bussines follow the people ini akan sangat bermanfaat, apalagi melihat besarnya potensi penduduk Indonesia itu sendiri yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.

"Jadi konsepnya seperti ketika di luar negeri, orang China mencari restoran Cina maka akan mencarinya di China Town, seperti itulah," ujarnya.

Menurutnya sebagian besar masyarakat Indonesia masih melihat brand itu apakah memiliki standart global atau tidak, kalau tidak maka produknya tidak akan dibeli.

"Dalam waktu dekat, negara yang bisa disasar misalnya Malaysia, di sana ada 3 juta orang Indonesia. Ini tidak kecil, lalu kenapa tidak menyasar sana. Selain itu juga kawasan Middle East, atau Afrika Utara," ujarnya.

Ketua Umum Jakarta Fashion Week 2015, Svida Alisjahbana mengatakan Indonesia Fashion Forward selama tiga tahun berturut-turut telah berhasil menginkubasi sebanyak 30 desainer Indonesia yang berhasil menciptakan fashion label mereka sendiri.

"IFF pertama berhasil menginkubasi sebanyak 6 desainer, tahun kedua 12 desainer dan tahun ini juga 12 desainer," ujarnya.

Para desainer itu diantaranya, Albert Yanuar, Barli Asmara, Bretzel, Cotton Ink, Dian Pelangi, Jeffry Tan, Major Minor, Yosafat Dwi Kurniawan, 8Eri, Batik Chic, Friederich Herman, Jenahara, Lianna G, Milcah, Monday to Sunday, NFRT, NurZahra, Tex Saverio, Toton, Vinora, Etu, Billy Tjong, Norma Hauri, Patrick Owen, Sapto Djojokartiko, Andhita Siswandi, fbudi, jii, Monstore, Peggy Hartanto, Capital T Rosalyn Citta.

Menurutnya melalui program ini para desainer diharapkan lebih siap menembus pasar internasional sekaligus memperkuat industri fesyen Indonesia, karena telah mendapatkan bimbingan secara langsung oleh ahli-ahli fesyen dari Center for Fashion Enterprise (CFE), London, Inggris.

CFE adalah lembaga pengembangan bisnis yang melakukan inkubasi dan mendukung pengembangan label maupun desainer baru di sektor fesyen di Inggris.

Menurutnya sepanjang tahun para pakar fesyen ini membimbing para desainer dan berbagi strategi mengembangkan label fesyen mereka.

"Tidak hanya mengupas strategi mempresentasikan koleksi secara profesional, juga kiat menjalin kemitraan agar bisnis fesyennya terus berkembang, termasuk pengelolaan proses produksi dan siklus prosuksi," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fesyen

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top