NASIB TEMBAKAU: Minat Petani Tanam Tembakau Anjlok

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Bondowoso Abdul Hafidz Aziz menguraikan luas areal panen tembakau di daerahnya tahun ini berkurang sekitar 25% dari tahun lalu 1.800 hektare.
Miftahul Ulum | 02 September 2014 19:06 WIB
tembakau

Bisnis.com, SURABAYA -- Minat petani untuk menanam tembakau turun akibat gangguan cuaca disertai rendahnya harga beli komoditas tersebut.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Bondowoso Abdul Hafidz Aziz menguraikan luas areal panen tembakau di daerahnya tahun ini berkurang sekitar 25% dari tahun lalu 1.800 hektare.

“Saat tanam awal tahun lalu cuaca tidak baik sehingga petani perlu usaha lebih meski panen September-Oktober saat kondisi bagus,” jelasnya, Selasa (2/9/2014).

Hafidz menyebutkan tahun ini hanya menanam tembakau 1,5 hektare sedangkan tahun lalu 6 hektare.

Pengurangan luasan pertanaman tembakau serupa juga dilakukan petani lain.

Selain persoalan cuaca, kata dia, penurunan luasan pertanaman dipengaruhi harga pembelian yang rendah.

Tembakau Rajang Madura yang idealnya dijual rata-rata Rp55.000 per kilogram (kg) saat ini harga tertinggi hanya Rp40.000 per kg.

Harga jual lebih rendah dibanding patokan ideal juga terjadi di jenis Rajang, Paiton.

Harga rata-rata tembakau tersebut idealnya Rp40.000 per kilogram, namun harga tertinggi pasar Rp30.000.

Hafidz menilai dengan harga pembelian rendah maka keberlanjutan usaha tani musim tanam depan terancam. Terlebih bila harga pupuk dan tenaga kerja terus naik.

“Problemnya menaikkan nilai tawar petani di tingkat pengepul, sebab selama ini tembakau tidak bisa langsung ke pabrik,” tambahnya.

Seperti diketahui, tembakau yang telah dirajang di petani tidak langsung bisa masuk pabrik.

Tembakau tersebut biasanya disimpan setahun sampai 3 tahun oleh pengepul sebelum masuk ke pabrik sigaret.

Dalam perkembangan lain, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur M. Samsul Arifien menguraikan permintaan pabrikan terhadap produk tembakau petani juga turun.

Pembelian pada tahun ini hanya 80.000 ton, sedangkan tahun lalu 100.000 ton.

“Terjadi tren penurunan, pada 2012 bahkan permintaan bisa 120.000 ton,” jelasnya.

Menurutnya penurunan permintaan tembakau sudah didasarkan pada kebutuhan pabrik rokok.

Sehingga, sebelum tanam biasanya pabrik berkomunikasi dengan asosiasi dan muncul taksasi yang disampaikan ke petani.

Dinas Perkebunan Jawa Timur tahun ini mencatat luasan pertanaman tembakau 120.000 hektare dengan potensi panen 100.000 ton.

 

Tag : tembakau
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top