MEA 2015: Industri TPT Siap Hadapi Pasar Bebas Asean. Pemerintah?

Hingga saat ini pemerintah kurang memberikan sosialisasi mengenai persiapan pasar bebas Asean.
Adi Ginanjar Maulana | 02 Juli 2014 14:05 WIB

Bisnis.com, BANDUNG—Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Barat mempertanyakan sikap pemerintah yang kurang serius menghadapi pasar bebas Asean 2015.

Ketua Paguyuban Pengusaha Tekstil Majalaya (PPTM) Deden Suwega mengatakan hingga saat ini pemerintah kurang memberikan sosialisasi mengenai persiapan pasar bebas Asean.

Padahal, katanya, pelaku industri TPT sudah menyatakan siap untuk menghadapi pasar bebas ini.

“Keadaan demikian menjadi tidak sinkron antara pemerintah dengan pelaku usaha,” katanya, Rabu (2/7/2014).

Dia menjelaskan, seharusnya persiapan pemerintah menghadapi digulirkannya pasar bebas Asean antara lain dengan menggelar pameran tingkat nasional dan internasional secara berkelanjutan.

Dengan demikian, pelaku industri memiliki target yang harus dicapai, sehingga tahap demi tahap mereka bisa bersaing.

“Sampai saat ini kami tidak pernah menerima sosialisasi mengenai untung rugi dari adanya pasar bebas ini. Bahkan, diduga masih ada pelaku usaha yang sama sekali tidak mengetahui pasar bebas ini,” ujarnya.

Adapun produksi kain tekstil setiap bulan bisa mencapai 1 juta, bahkan lebih untuk momen menjelang Lebaran.

“Tidak seperti dulu yang hanya banyak di bulan-bulan menjelang Lebaran. Kini tiap bulan ada pesanan kain terutama sarung,” ujarnya.

Deden menyebutkan penetrasi pasar produksi tekstil Majalaya selama ini diserap oleh kota-kota besar seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Ke luar negeri langsung belum, mungkin dengan pasar bebas Asean ini kami akan memperluas pasar.”

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat menilai daya saing industri di Indonesia tidak akan meningkat jika beleid yang diterapkan pemerintah tidak mendukung dunia usaha.

Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang Industri dan Industri Kreatif Dedy Widjaja mengatakan hingga saat ini tidak ada beleid yang tegas misalnya mencetak kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

Dia menjelaskan kurangnya skill yang dimiliki SDM membuat daya saing industri tidak akan kencang.

“Pemerintah harus menerapkan beleid yang memprioritaskan bagaimana kemampuan SDM itu nomor satu. Karena, tanpa SDM yang andal kinerja industri tidak akan maju,” katatya.

Dia mengatakan jika kemampuan SDM masih rendah maka kinerja industri dipastikan mandek atau bahkan menurun.

Dia menjelaskan geliat perekonomian yang terjadi saat pasar bebas Asean di berbagai negara mendorong produsen luar negeri melakukan ekspor besar-besaran ke seluruh dunia, salah satunya Indonesia.

“Kondisi ini bisa menjadi ancaman dan peluang bagi Indonesia untuk bisa berdaya saing dengan produk impor,” katanya.

Dedy menjelaskan Jabar bisa membuat industri unggulan seperti TPT dan alas kaki.

Dia mengatakan selama ini kinerja ekspor sektor manufaktur cukup menjanjikan dan pengusaha bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk menggenjot kinerja ekpsor tersebut.

Mengutip ekspor nonmigas Jabar pada April 2014 mencapai US$2,21 miliar atau naik 3,77% dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi serupa terjadi pada ekspor migas yang naik 5,09% dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekspor nonmigas pada April terbesar pada sektor alas kaki sebesar US$26,81 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada sektor kendaraan sebesar US$38,88 juta.

Tag : tpt
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top