WAN-IFRA: Bisnis Media Cetak Asia Masih Menjanjikan

Asosiasi Surat Kabar dan Percetakan Dunia (World Association of Newspaper and News Publisher/WAN-IFRA) menyebutkan industri media massa di Asia masih menjanjikan di tengah tren penurunan yang dialami industri media cetak di dunia.
Anggi Oktarinda | 17 Mei 2014 09:00 WIB

Bisnis.com, SINGAPURA--Asosiasi Surat Kabar dan Percetakan Dunia (World Association of Newspaper and News Publisher/WAN-IFRA) menyebutkan industri media massa di Asia masih menjanjikan di tengah tren penurunan yang dialami industri media cetak di dunia.

Direktur WAN-IFRA untuk Asia Gilles Demptos mengatakan meskipun tren penurunan terjadi di banyak wilayah di dunia, tetapi industri media massa cetak tetap merupakan bisnis yang besar.

"Lebih dari setengah jumlah populasi orang dewasa dunia membaca koran harian. Total lebih dari 2,5 miliar populasi baca format cetak. Sementara, 600 juta yang baca melalui format digital," ujarnya dalam Forum Jurnalis Asia yang diselenggarakan Temasek Foundation di Riverview Hotel di Singapura, Jumat (16/5/2014).

Dari sisi pendapatan, ujarnya, surat kabar masih membawa keuntungan dalam jumlah besar untuk perusahaan. "Saat ini, bisnis surat kabar secara global menghasilkan US$200 miliar pendapatan secara global," ujarnya.

Namun demikian, dia mengingatkan penurunan pendapatan memang sedang dihadapi industri media massa cetak secara global.

Hal itu terjadi sejalan dengan turunnya tiras surat kabar setelah masyarakat bergeser dari dunia cetak ke dunia digital.

Pasalnya, lanjutnya, sebanyak 1% perubahan yang terjadi di sirkulasi dapat menyebabkan 3% perubahan pendapatan iklan.

Gilles menyebutkan meskipun sedang menjadi tren global, akan tetapi kondisi industri media massa cetak berbeda-beda tergantung pada kondisi pangsa pasar di setiap Negara.

Di beberapa Negara, lanjutnya, kondisinya justru terbalik.

Dia mencontohkan sirkulasi media cetak di Indonesia masih tumbuh pesat, berbalik dengan sirkulasi di Singapura yang cenderung menurun.

Pendapatan iklan juga meroket di Indonesia, lebih dari dua kali lipat dalam 5 tahun terakhir. Sementara di banyak Negara lainnya turun.

"Sirkulasi media cetak yang menurun terjadi di pasar yang sudah matang karena konsumen bergeser ke digital," ujarnya.

Tag : wan-ifra, media cetak
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top