Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rencana Impor Gula Bulog Dikecam Asosiasi

Masalah produktivitas gula nasional terkait dengan rencana Perum Bulog (Persero) untuk mengimpor 328.000 gula kristal putih (GKP) guna memenuhi keharusan menyediakan buffer stock nasional 350.000 ton. Sejauh ini, perusahaan pelat merah itu hanya mampu menyerap 22.000 ton GKP dari dalam negeri.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 29 April 2014  |  15:15 WIB
kenaikan HPP menjadi Rp8.500/kg sudah cukup memadai.  - bisnis.com
kenaikan HPP menjadi Rp8.500/kg sudah cukup memadai. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Masalah produktivitas gula nasional juga terkait dengan rencana Perum Bulog (Persero) untuk mengimpor 328.000 gula kristal putih (GKP) guna memenuhi keharusan menyediakan buffer stock nasional sebanyak 350.000 ton. Sejauh ini, perusahaan pelat merah itu hanya mampu menyerap 22.000 ton GKP dari dalam negeri.

Keputusan impor tersebut sangat disayangkan oleh pihak asosiasi, mengingat sebenarnya Bulog dapat menyerap dari produksi gula nasional sepenuhnya, karena—menurut perhitungan Asosiasi Gula Indonesia (AGI)—stok gula di dalam negeri sebenarnya masih lebih dari cukup.

Menurut Direktur Eksekutif AGI Tito Pranolo,memasuki 2014, stok GKP dalam negeri masih sekitar 1,2 juta ton, naik dari angka pasokan awal tahun sejumlah 990.000 ton pada 2013. Pasokan awal tahun kali ini juga diklaim sebagai yang terbanyak dalam 15 tahun terakhir.

“Katakanlah tahun ini produksi kita 2,6 juta ton, ditambah stok awal tahun 1,2 juta ton sudah 3,8 juta ton. Lalu, dikurangi konsumsi nasional 2,7 juta ton, masih sisa 1,1 juta ton. Sebenarnya masih cukup. Sampai Maret saja masih ada stok 900.000 ton,” lanjutnya.

Ketua Bidang Perdagangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Ismed Hasan Putro juga berpendapat agar rencana impor GKP oleh Bulog dibatalkan. “Karena stok gula nasional masih ada lebih dari 800.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam 2-3 bulan ke depan.”

Kemendag telah memberi izin impor gula bagi Bulog pada 11 April. Wamen Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan Bulog seharusnya sudah merealisasikan impor, meski izin—yang jatuh tempo pada 15 Mei itu—terlambat dikeluarkan.

Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Bulog sudah harus merealisasikan impor GKP sesuai dengan izin yang diberikan Kemendag. “Bulog sudah diberi tugas impor 328.000 ton. Jadi, ya dia harus tanggung jawab,” tegas Bayu.

Di tengah isu impor gula oleh Bulog, otoritas perdagangan belum juga mengumumkan harga patokan petani (HPP) gula yang belum bergeser dari level Rp8.100/kg selama dua periode. Padahal, pengumuman HPP merupakan sinyal bahwa petani gula memiliki jaminan pasar.

Menurut Tito, kenaikan HPP menjadi Rp8.500/kg sudah cukup memadai. “HPP enggak perlu tinggi. HPP bisa rendah, asal pemerintah mau menargetkan kenaikan rendemen. Gambarannya, 1% rendemen setara dengan kenaikan produksi sebesar 300.000 ton. Saat ini rendemen kita sekitar 7%, padahal Thailand sudah 11%.”

Perkembangan Produksi Gula Nasional

Tahun

Luas

(ha)

Tebu

(ton/ha)

Rendemen

(%)

Hablur

(juta ton)

2008

436,5

75,5

8,1

2,66

2009

422,9

76,05

7,83

2,51

2010

426,9

81,9

6,5

2,27

2011

450,2

67,3

7,35

2,22

2012

451,1

72,1

8,13

2,59

2013

470,1

75,6

7,18

2,55

2014*

447

70,8

8,08

2,5-2,6

Sumber: Dewan Gula Indonesia, 2014

*) Proyeksi Aosisasi Gula Nasional (AGI)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bulog stabilisator harga
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top