Ketika Games Karya Anak Bangsa tak Bisa Dipandang Sebelah Mata

Pada 2010, sebuah studio kreatif asal Indonesia, Manticore Studio tiba-tiba menerima tantangan dari sebuah publisher internasional. Game-game arcade yang sudah beredar di Indonesia tampaknya harus diisi dengan produk bernuansa segar. Selang dua tahun kemudian, game Mythical Lords diluncurkan. .
Miftahul Khoer | 02 Maret 2014 12:00 WIB
ILustrasi salah satu serial games - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA- Bagi generasi 1990-an, barangkali akan sangat akrab dengan permainan Ding Dong. Biasanya, selain bisa ditemukan di mal, permainan Ding Dong atau Arcade ini juga bisa dimiliki di kalangan rumahan.

Dengan memasukan koin yang telah ditentukan, beragam permainan bisa dinikmati. Street Fighters, Daytona USA, King of Fighters atau Donkey Kong merupakan contoh game arcade terkenal dan cukup banyak dinikmati kalangan pecinta game. Namun, Ding Dong kini mulai pupus. Produk game terbaru versi mobile siap membanjiri pasar.

Pada 2010, sebuah studio kreatif asal Indonesia, Manticore Studio tiba-tiba menerima tantangan dari sebuah publisher internasional. Game-game arcade yang sudah beredar di Indonesia tampaknya harus diisi dengan produk bernuansa segar. Selang dua tahun kemudian, game Mythical Lords diluncurkan. Tak tanggung-tanggung, peluncuran game tersebut merangsek hingga Singapura dan Filipina.

Game arcade Mythical Lords, karya anak bangsa ini dianggap mampu menyaingi game arcade-arcade besutan negara lain. Namun, pecinta game ini hanya bisa menikmatinya di Timezone saja. “Sejak kehadiran Mythical Lords, kami mengembangkan portofolio game kami. Termasuk ke plat form android,” kata Murdhi Purwo Handoko, Studio Head Manticore Studio.

Produk besutan yang dihasilkan Manticore Studio sebenarnya tidak melulu game. Ada beberapa produk aplikasi interaktif yang ditawarkan ke sejumlah perusahaan. Untuk game sendiri, pihaknya juga bekerja sama dengan publisher lokal Digital Eight untuk menciptakan game The Great Adventires Bona & Friends, Mombi's Goal, Tapteria, Grazzle, Funimal Sound serta lebih dari 20 advergaming kerja sama dengan digital agency lainnya.

Memasuki era mobile, Manticore Studio semakin agresif memasarkan produknya. Produk game yang dirilis dipasarkan secara global dengan menyasar Apple Appstore yang dianggap sudah banyak digunakan pecinta gadjet. Tentu, otak di balik Manticore Studio digawangi oleh beberapa orang yang sangat mengerti teknologi.

Tak jauh beda dengan Manticore Studio, pembuat game dan mobile apps Garuda Games menawarkan produk anak bangsa yang lebih kreatif. Sejak 2008, Garuda Games memproduksi games untuk personal computer (PC) tiga dimensi yang menyasar pasar lokal. Games yang diproduksi dimulai dari Blazzworld, SteamOps hingga Steampunk Deathmatch yang bisa dinikmati saat masih jayanya era warung internet (warnet).

Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan pasar, Garuda Games memperluas jangkauan bisnis untuk merambah ke pasar mobile phone macam iOs, Android hingga Windows Phone. Satu produk yang dikhususkan untuk mobile game yakni Catlyne Series yang menyasar pasar anak-anak. Game ini juga bermanfaat bukan semata untuk kesenangan, tetapi para penikmat game ini dituntut belajar angka dan huruf.

Game ini disebut juga game edukasi yang ditujukan untuk anak usia dini berkisar 3-5 tahun. Pengajaran huruf, angka serta melatih saraf motorik, kognitif, serta aspek sosial menjadi salah satu tujuan diciptakannya Catlyn Series.

Game tersebut bisa didownload juga melalui iTunes Appstore yang bisa dimainkan lewat iPad dan iPhone. Catlyn Series terdiri dari delapan stage yang bisa dimainkan, di mana setiap stage memberikan pelajaran dan game play yang berbeda-beda.

Harun Kurnia, Chief Marketing Officer Garuda Games mengatakan sebelumnya latah gadjet seperti saat ini, pihaknya masih berfokus memproduksi game untuk gadjet feature phone.

Karena untuk sisi pembayaran, orang Indonesia masih ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Orang Indonesia masih berstigma pembelian melalui pengurangan pulsa dibandingkan dengan pembayaran melalui kartu kredit untuk mendownload game.

Produk Garuda Games bahkan banyak diburu oleh pasar internasional terutama Amerika. Kehadiran iOs, Android dan Windows Phone rupanya banyak mendukung dari segi pemasaran produk. 

Untuk saat ini, game paling banyak didownload adalah mobile game yang dipublish via iTunes Appstore. Produknya sendiri yang banyak diburu adalah game bertema zombie dan juga Catlyn Series yang sempat menduduki Top Chart di beberapa negara.

Harun memaparkan untuk dana produksi satu game, Garuda Games bisa menghabiskan biaya Rp30 juta-Rp60 juta. Untung yang didapat dalam satu game bisa kembali dalam hitungan 8 bulan-1 tahun. “Tetapi tergantung strategi marketing. Untuk game yang banyak didownload, keuntungannya bisa kembali hingga 200%,” paparnya.

Business Manager Manikmaya Games, Andre Dubari mengatakan pihaknya saat ini tengah menggenjot pemasaran Mat Goceng, sebuah card game berlatar Batavia tahun 1922 tentang seorang preman bernama Mat Goceng.

Tokoh dalam game ini berperan melindungi pedagang asal tanah Pasundan. Namanya Nyi Kencleng yang berniat membangun padepokan silat di Batavia. Nyi Kencleng berencana memberi kesempatan warga Batavia melawan pemerintahan kolonial Belanda.

“Hingga saat ini beberapa judul game juga sedang dalam proses menuju masa rilis oleh Manikmaya Games. Antara lain mobile game Kucing Sumput, board game Mahardika, serta board game Punakawan,” katanya.

Bagian paling menarik dari bermain Mat Goceng adalah setiap pemain akan dibagikan salah satu dari 6 karakter yang tersedia. Karakter tersebut antara lain Mat Goceng, Nyi Kencleng, Rijkaard Cere, Wan Fulus, Baba Amsyong dan Bang Codet. Karakter ditawarkan secara acak dan tanpa mengetahui karakter yang didapat pemain lain. Setiap karakter memiliki objektif dan kondisi menang yang berbeda. Setiap pemain seiring jalannya permainan harus mampu memanfaatkan skill deduksinya untuk bisa memastikan pemain bisa memenangkan permainan tersebut.

Mat Goceng didesain oleh Brendan Satria sebagai game designer dan Rezza Rainaldy sebagai illustrator. Dari mendesain Mat Goceng, keduanya mendapatkan royalti di setiap penjualan card game Mat Goceng seperti penulis buku mendapatkan royalti dari penjualan bukunya.

Modal untuk memproduksi sebuah game digital dan tabletop game tentu berbeda. Untuk tabletop game seperti board game dan card game tentunya dibutuhkan modal untuk percetakan, sedangkan di lain pihak komponen terbesar untuk game digital tentu proses developmentnya.

Menurutnya, saat ini, nama-nama besar di industri game memang masih banyak didominasi negara-negara asing. Namun demikian dalam beberapa tahun belakangan industri game di Indonesia tumbuh sangat pesat.

Banyak game developer yang menghasilkan game-game berkualitas yang telah dimainkan begitu banyak orang di dunia, sehingga bisa disimpulkan secara kualitas, karya anak bangsa sudah mulai menunjukkan daya saingnya.

Manikmaya sendiri dengan kapasitasnya sebagai game publisher melihat persaingan sebagai momen baik. Tentunya masing-masing ide kreatif akan lebih besar ditonjolkan perihal industri game Indonesia untuk merambah market yang lebih luas.

“Saat ini juga Manikmaya Games sedang berkorespondensi dengan beberapa game reviewer di US dan Eropa untuk mau mereview game-game yang dirilis oleh Manikmaya Games,” ujarnya.

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Tag : games
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top