Belanja investasi PERTAMINA tahun depan Rp64 triliun

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) menyiapkan belanja investasi (capital expenditure/capex) senilai US$6,7 miliar atau sekitar Rp64 triliun untuk tahun depan.
Fajrin
Fajrin - Bisnis.com 04 Desember 2012  |  15:45 WIB

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) menyiapkan belanja investasi (capital expenditure/capex) senilai US$6,7 miliar atau sekitar Rp64 triliun untuk tahun depan.

Nilai tersebut naik sekitar 10 % jika dibandingkan tahun 2012 yakni sekitar US$5,8 miliar.Direktur Keuangan Pertamina Andri T. Hidayat mengatakan nilai investasi tersebut sebagian besar digunakan untuk investasi di sektor hulu. Nantinya, belanja investasi salah satunya akan dialokasikan untuk akuisisi ladang migas, baik di dalam maupun luar negeri.“Paling besar masih di sektor hulu, baik itu untuk pengeboran, maupun peningkatan produksi,” kata Andri, Selasa (4/12).  Adapun untuk alokasi belanja akuisisi pada 2013 tidak berbeda dengan 2012 yang mencapai Rp12 triliun.Sementara untuk pembiayaannya, perusahaan akan mengandalkan kas internal dan eksternal, seperti pinjaman. “Mana ada sekarang perusahaan yang tidak ada pinjaman,” tambahnya. Pada 2012, Pertamina melakukan investasi sebesar US$5,8 miliar dengan komposisi 80% untuk proyek hulu dan 20% untuk hilir. Pendanaan investasi sendiri dipenuhi dari pendanaan internal sebesar 20% dan eksternal sebesar 80%.Direktur Hulu Pertamina M. Husen mengatakan pada 2013 Pertamina akan lebih agresif meningkatkan produksi melalui optimalisasi pengurasan dan produksi tahap lanjut. Pihaknya berharap akan ada peningkatan produksi sekitar 5% pada tahun depan dibandingkan dengan tahun 2012.Husen memperkirakan target produksi minyak Pertamina tahun ini tidak bisa tercapai. Pada 2012, produksi minyak Pertamina diperkirakan mencapai 200.000 barel per hari atau sedikit lebih rendah dibandingkan target 215.000 barel per hari. Padahal idealnya, produksi minyak tahun ini sekitar 215.000 barel per hari.“Posisi produksi minyak kita sekitar 95% dari target. Tadinya dengan proyek-proyek yang bisa onstream seharusnya bisa bertambah, tapi ternyata tetap tidak bisa. Mungkin sampai akhir tahun bakal tetep bertahan diangka tersebut karena ada proyek-proyek yang tidak kekejar tahun ini.” kata Husen.Tahun depan, perusahaan akan mengandalkan peningkatan produksi dari (Improve Oil Recovery/IOR) and Enhanced Oil Recovery (EOR). Menurutnya, peningkatan produksi idealnya sekitar 5% dibandingkan tahun ini. Saat ini pihaknya sedang bekerja keras untuk bisa mengejar peningkatan sebesar 5% tersebut. (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top