BISNIS BATU BARA: Produksi GOLDEN ENERGY naik 50% kuartal I tahun ini

 
Gajah Kusumo | 30 April 2012 16:59 WIB

 

JAKARTA: PT Golden Energy Mines, kelompok usaha Sinar Mas Group, mencatat peningkatan produksi dan penjualan batu bara.

 

Sepanjang kuartal I tahun ini, Golden Energy memproduksi 1,492 juta ton dan menjual 1,769 juta ton, rata-rata naik 50% ketimbang pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.

 

Presiden Direktur Golden Energy Fuganto Widjaja mengungkapkan secara umum volume produksi batubara termal dapat tumbuh lebih menjanjikan.

 

Volume produksi tahun ini akan dioptimalkan dari total cadangan batu bara di site Sumatera, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sebesar 911,25 juta ton.

 

Menurut Fuganto, Golden Energy tahun ini menargetkan penjualan 10 juta ton batu bara. Perseroan telah mengantongi kontrak 4 juta ton dengan sejumlah perusahaan, sekitar 1 juta ton merupakan kontrak yang disepakati dengan GMR Coal Resources dan sisanya akan dikirim ke China,  Thailand,  dan India.

 

GMR merupakan perusahaan India yang menguasai 30% saham Golden Energy. Perseroan juga sedang menjajaki pembicaraan serius dengan beberapa pelanggan mengenai kontrak penjualan batu bara.

 

“Volume kontrak penjualan batubara yang sedang dibicarakan sudah mencapai 8 juta ton,” ujarnya.

Fuganto memperkirakan harga jual rata-rata tahun ini berkisar US$ 65—US$ 75 per ton atau sekitar Rp 591.500—Rp 682.500 per ton. Menurutnya, proyeksi harga jual itu berdasarkan kadar kalori batu bara termal berkualitas 5.200—6.100 kilokalori yang dihasilkan perusahaan.

 

“Kami dapat mempertahankan harga jual batubara pada periode ini  dikarenakan adanya kontrak pemesanan dari periode sebelumnya dan hal tersebut membuat harga jual batubara tetap terjaga,” ungkapnya.

 

Meski begitu, seru Fuganto, pihaknya harus menghadapi peningkatan biaya operasional terutama kenaikan harga bahan bakar solar. Golden Energy berencana menganggarkan belanja modal  sebesar US$ 150 juta hingga tiga tahun ke depan. 

 

Setiap tahun,  perseroan mengalokasikan dana US$ 50 juta untuk mengembangkan infrastruktur jalan dan pelabuhan di Sumatera dan Kalimantan. Proyek ini diharapkan memperlancar produksi dan menekan beban ongkos distribusi. (ea)

 

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top