BBM KAPAL NELAYANPemerintah dorong konversi ke bahan bakar gas

 
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 29 April 2012  |  15:17 WIB

 

SEMARANG: Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) utuk nelayan masih menjadi persoalan utama selama ini, sehingga pemerintah akan mendorong konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas dan pembuatan kartu kapal untuk mengontrol distribusi BBM bersubsidi.
 
Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Heriyanto Marwoto mengatakan tidak seluruh kapal nelayan menggunakan solar, tetapi sebagian besar terutama kapal nelayan yang menggunakan motor tempel dengan ukuran 6,5-15 PK.
 
Bahkan, berdasarkan data statistik, katanya, jumlah kapal yang menggunakan motor tempel itu paling dominan, sehingga konsumsi premium justru cukup besar. Selama ini, kapal nelaya hanya identik dengan solar saja. Padahal, sebagian besar kapal menggunakan bahan bakar premium.
 
"Artinya pada saat bicara BBM [untuk nelayan] tidak selesai saat kita mengatakan solar cukup. Jika solar cukup mestinya BBM juga cukup," ujarnya saat acara Kunjungan Kerja KKP ke Balai Besar Penangkapan dan Pengembangan Ikan (BPPI) Semarang hari ini.
 
Menurutnya, berdasarkan uji coba yang dilakukan di Jepara terbukti penggunaan bahan bakar gas menghemat 51% dibandingkan dengan bahan bakar premium. "Konversi ke gas itu akan dibarengi dengan bantuan konverter kit."
 
Biaya konverter kit untuk kapal ukuran besar dengan kapasitas 2.500 cc, maka harga konverter kit Rp2,5 juta. "Kami belum menemukan konverter kit yang kpasitas kecil. kalau ada konverter kit yang [kapal nelayan] kapasitas 500 cc, pasti harga lebih murah."
 
Hal itu dimaksudkan supaya program konversi BBM bukan hanya di kendaraan umum, tetapi untuk kapal ikan ukuran kecil yang menggunakan premium.
 
Pihaknya akan mengusulkan program konversi bahan bakar nelayan itu kepada Menteri Koordinator Perekonomian.
"Nanti akan diusulkan ke Menko Perekonomian, dibentuk tim konversi BBM ini supaya masuk dalam program itu, tim konversi ada sediri yang dibentuk."
 
Menurutnya, kapal nelayan yang menggunakan motor tempel ukuran 6,5 PK menggunakan bensin sehari Rp20.000, tetapi jika menggunakan gas hanya Rp10.000 per hari.
 
"Sehari Rp10.000 penghematan dan setiap kapal yang diuji coba sekitar 8 jam berjalan, itu dibandingkan dengan premium Rp20.000 per hari."
 
Sementara itu, Station Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak dapat melayani premium untuk nelayan. Selama ini, nelayan membeli solar dari Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN). SPDN hanya melayani pembelian solar untuk nelayan dan tidak menyediakan premium.
 
"Premium tidak bisa dilayani oleh SPDN, sedangkan SPDN belum ada didesain untuk melayani kebutuhan premium, tetapi melayani kebutuhan solar."
 
Marwoto menuturkan jumlah SPDN di seluruh wilayah Indonesia hanya 268 unit dan 41 SPDN di antaranya tidak beroperasi.
 
Padahal, jumlah pelabuhan perikanan di Indonesia sebanyak 618 pelabuhan perikanan. Oleh karena itu, masih terjadi kekurangan 350 SPDN. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top