ENERGI TERBARUKAN: Harga listrik tenaga bayu akan ditetapkan

 
Aprianto Cahyo Nugroho | 29 April 2012 18:08 WIB

 

 

JAKARTA : Pemerintah sedang menyiapkan regulasi terkait harga jual listrik dari pembangkit listrik tenaga bayu atau angin di Pulau Jawa sebesar Rp1.200 per kWh.

 

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan untuk lokasi di luar Pulau Jawa, akan dikalikan faktor pengali tertentu.

 

“Jadi harga listrik untuk tenaga bayu untuk tiap-tiap pulau itu beda, supaya bisa berkembang. Untuk Pulau Jawa itu Rp1.200 per kWh,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, hari ini, 29 April 2012.

 

Regulasi itu akan tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM yang diharapkan terbit tidak lama lagi. Harga listrik itu juga merupakan masukan dari salah satu pengembang listrik dari tenaga bayu atau angin, yakni UPC Renewables Indonesia Limited.

 

Seperti diketahui, UPC Renewables Indonesia Limited bersama rekannya PT Binatek Reka Energi, berencana mengembangkan wind farm dengan kapasitas 50 MW di Dusun Patehan, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Proyek senilai lebih dari US$150 juta itu meliputi pembangunan 33 turbin angin dengan kapasitas masing-masing sebesar 1,5 MW.

 

“Satu unit baling-balingnya itu bisa sekitar 1,5—3 MW. Mereka kira-kira perlu waktu satu tahun untuk bisa menghasilkan listrik dari tenaga angin,” ujar Kardaya.

 

Di sisi lain, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) diketahui sedang melakukan kajian untuk mengembangkan pembangkit serupa. PLN mulai melakukan survei lokasi yang paling memungkinkan bagi proyek percontohan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). 

 

Survei lapangan dilakukan PLN bersama tim ahli PLTB dari China di tiga lokasi di NTT, terdiri dari dua lokasi di Pulau Timor (Desa Aeu’ut, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan di Desa Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara) serta satu lokasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba.

 

Vickner Sinaga, Direktur Operasi PLN Wilayah Indonesia Timur mengatakan pihaknya berharap upaya PLN mengembangkan PLTB ini bisa secepatnya direalisasikan meski dalam skala yang kecil terlebih dulu.

 

“Sehingga nanti kalau PLTB ini berhasil dikembangkan, diharapkan bisa menarik pihak swasta untuk ikut mengembangkan PLTB,” ujarnya.

 

Adapun dari hasil pengukuran tim pakar PLTB dari China, di daerah Timor Tengah Selatan dan Utara diperoleh kecepatan angin di atas 5 meter per detik.  Setelah hasil survei ini, kemudian akan dilakukan kajian lebih lanjut sehingga dapat diketahui besarnya kapasitas listrik yang bisa dihasilkan dari PLTB di wilayah NTT ini. Potensi angin di NTT diketahui sangat besar karena topografi daratan berbukit-bukit dan ladang savana.

Sumber : Vega Aulia Pradipta

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top