GLOBAL BOND: RI lirik potensi pembiayaan dari China & Korea

JAKARTA: Pemerintah Indonesia mulai melirik potensi pembiayaan dari pasar China dan Korea Selatan, setelah Jepang, menyusul rencana peluncuran obligasi lintas negara di kawasan Asean+3.
| 28 April 2012 15:04 WIB

JAKARTA: Pemerintah Indonesia mulai melirik potensi pembiayaan dari pasar China dan Korea Selatan, setelah Jepang, menyusul rencana peluncuran obligasi lintas negara di kawasan Asean+3.

 

Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo menjelaskan wacana obligasi lintas negara muncul ditengah upaya pembentukan pasar obligasi kawasan dalam kerangka Asean Bond Market Initiative (ABMI).

 

Menurutnya, dengan berjalannya ABMI nanti, maka memungkinkan pemerintah dan swasta untuk dapat berinvestasi maupun menerbitkan obligasi di manapun dalam kawasan dengan mata uang lokal.

 

"Saat ini kami masih tata tentang governancenya, regulatoryïnya, dan harmoniasasi aturan antar-negara," ujarnya di kantor, Jumat 27 April 2012.

 

Agus mengatakan obligasi lintas negara Aseano+3 menyerupai dengan surat utang negara berdenominasi yen (Samurai bond) yang pernah pemerintah terbitkan di pasar Jepang.

 

Bedanya, kata Agus, obligasi lintas negara tidak perlu penjaminan dari lembaga keuangan lokal, tetapi tergantung besar cadangan mata uang lokal yang dimiliki calon negara-negara penerbit.

 

"Sekarang ini paket-paket yang kami mungkinkan, seperti paket Samurai bond yang kami terbitkan di Jepang, tentu negara lain yang memiliki potensi (besar) ialah Korea dan China," jelasnya.

 

Namun, lanjutnya, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadai keterbukaan pasar uang kawasan tersebut agar tidak menjadi lahan strategis bagi pemodal asing mengeruk keuntungan dari pasar domestik.

 

"2013 saya rasa suatu waktu yang reasonable, yang ideal untuk bisa dijalankan (penerbitan obligasi lintas negara)," katanya.

 

Naik dua kai lipat

Menkeu menambahkan pada minggu depan akan ada pertemuan perwakilan negara anggota Asean+3 dengan Bank pembangunan Asia (ADB) untuk membicarakan ABMI.

 

Pertemuan tersebut juga akan membicarakan komitmen negara-negara anggota untuk meningkatkan dua kali lipat kumpulan dana di bawah kerangka Chiang Mai initiative dari posisi saat ini US$120 miliar.

 

"Paling tidak dana yang akan dikelola itu akan diduakalilipatkan dari Us$120 milliar jdan di situ akan sangat baik untuk menjaga kestabilan ekonomi negara-negara Asean," jelasnya.

 

Hal lain yang juga akan dibahas, kata Agus, adalah masalah pembentukan Board of Directors Asean Infrastructure Fund (AIF).

 

"Kami akan mengusulkan calon, tetapi tidak diperlukan yang permanen jadi seorang pejabat yang full timenya di Indonesia bisa menjabat sebagai Board of Directors di sana, tapi belum final itu." (Bsi)

Tag :
Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top