KAYU GERGAJIANIndustri diarahkan berbasis hutan rakyat

 
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 26 April 2012  |  21:12 WIB

 

JAKARTA: Pengembangan industri kayu gergajian perlu diarahkan berbasis hutan rakyat, menyusul kian menurunnya volume produksi dari hutan alam.
 
Suwarni , Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia, mengungkapkan potensi hutan sengon di kebun rakyat setiap tahun dapat mencapai 30 juta m3. 
 
Besarnya peluang pengembangan hutan tanaman rakyat dapat mengembalikan gairah industri kayu gergajian karena lahan yang dialokasikan sebesar 15,4 juta hektar dengan standing stock sekitar 180 juta m3.
 
Menurut  Suwarni, pasokan kayu dari hutan alam terus menurun, ditandai dengan merosotnya target ekspor kayu gergajian dan olahan. Hingga akhir Maret, realisasi ekspor kayu gergajian dan olahan baru mencapai 469.913 m3 senilai US$296,6 juta (sekitar Rp2,72 triliun).
 
Padahal, industri kayu gergajian dan olahan sesumbar mampu mencapai target ekspor  hingga akhir tahun ini sebesar 2,99 juta m3 dengan pendapatan hingga US$ 1,61 miliar. Belum lagi, Kementerian Kehutanan berharap muluk dengan target produksi 10,2 juta m3 hingga 2014.
 
“Industri kayu yang berbasis hutan alam mengalami kecenderungan menurun setiap tahun, namun bakal digantikan oleh peningkatan produksi hutan tanaman rakyat,” ungkapnya kepada wartawan di gedung Manggala Kemenhut hari ini.
 
Industri kayu gergajian memang membutuhkan alternatif sumber produksi di luar hutan tanaman alam. Peluang pasar juga semakin menjanjikan menyusul tingginya kebutuhan kayu terutama bagi perumahan dan produk mebel dan furnitur lainnya.
 
Menurutnya, kayu sengon yang diperoleh dari kebun rakyat dapat menyumbang lebih dari 50% dari total ekspor industri gergajian dan olahan, sedangkan kayu karet sebesar 15%. Peningkatan produksi kedua jenis kayu tersebut sangat menjanjikan karena dapat mencapai 5%—10% per tahun.
 
“Tapi pemerintah juga harus menjamin tidak ada lagi pungutan baik ke masyarakat maupun pengusaha kayu sehingga harganya jadi tidak wajar,” ucapnya. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top