KACA LEMBARANVolume produksi tahun ini naik 8,7%

 
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 26 April 2012  |  22:06 WIB

 

JAKARTA: Produksi kaca lembaran Indonesia tahun ini ditargetkan mencapai 1,25 juta ton atau tumbuh 8,7% dari produksi 2011 yang sebanyak 1,15 juta ton.
 
Kepala Unit Kaca Pengaman Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan produksi kaca lembaran terus tumbuh seiring pertumbuhan industri otomotif dan properti di Indonesia.
 
Dia menjelaskan penjualan ke sektor properti merupakan 75% dari total penjualan kaca lembaran pada 2011, sedangkan 25% sisanya adalah permintaan dari industri otomotif.
 
Yustinus memaparkan peningkatan penjualan untuk pembangunan perumahan dan gedung bertingkat tidak hanya ditopang oleh kenaikan volume permintaan, tapi juga dari pergeseran tren konsumsi ke produk yang lebih berkualitas dan bernilai tambah tinggi.
 
“Contohnya sekarang hampir semua rumah pakai kaca 5 milimeter, hampir tidak ada yang pakai 3 milimeter. Konsumsi tapered glass juga meningkat,” katanya  hari ini.
 
Adapun permintaan dari sektor otomotif, lanjutnya, naik pesat seiring pertumbuhan penjualan mobil yang pada 2012 diprediksi bisa mencapai 1 juta unit.
 
Dia menjelaskan produksi 1 unit mobil rata-rata membutuhkan 3,5 meter persegi kaca lembaran, sedangkan rata-rata kebutuhan kaca lembaran untuk 1 unit bus mencapai 20 meter persegi.
 
“Pertumbuhannya akan terus meningkat karena semakin maju perekonomian biasanya akan meningkatkan konsumsi kaca juga,” kata Yustinus.
 
Pada 2010, konsumsi kaca lembaran Indonesia baru mencapai 2,3 kilogram per kapita atau masih di bawah konsumsi dunia yang sebanyak 6 kilogram per kapita dan China yang mencapai 11 kilogram per kapita.
 
Ketua Umum AKLP Samuel Rumbajan mengatakan pemerintah dan produsen dalam negeri harus memanfaatkan potensi pertumbuhan konsumsi kaca domestik tersebut.
 
Dia mengingkatkan tahun ini impor produk kaca lembaran dari China berpotensi melonjak selama perlambatan ekonomi global.
 
Produsen kaca China, jelasnya, berusaha mencari pasar tujuan alternatif untuk menggantikan pasar tujuan tradisional mereka di Amerika Serikat dan Eropa.
 
Samuel memperkirakan saat ini 10—15% dari produksi kaca China sudah masuk ke pasar Indonesia.
 
“China itu sudah punya 18 tungku [untuk produksi kaca], kita itu cuma punya 8 tungku. Kalau industri dalam negeri tidak didukung, akan banjir produk China,” katanya.
 
Dia meminta pemerintah segera menyelesaikan pembuatan standar nasional (SNI) untuk kaca lembaran untuk menghambat lonjakan impor produk berkualitas rendah dari China.
 
Selain itu, Samuel mengatakan pemerintah harus mampu menjamin ketersediaan gas bagi industri dalam negeri yang bergantung pada sumber energi tersebut, seperti pabrik-pabrik kaca lembaran.
 
Saat ini, menurut dia, industri kaca lembaran hanya mendapatkan sekitar 50% dari total kebutuhan gas yang mencapai 33 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
 
“Harapannya suplainya itu harus stabil, jangan dikurangi-kurangi terus. Apalagi harganya terus naik,” kata Samuel. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top