KEBIJAKAN PERDAGANGAN: Impor barang konsumsi akan dikendalikan

 
News Editor | 26 April 2012 18:56 WIB

 

 

JAKARTA: Pemerintah menilai perlu ada pengendalian impor barang konsumsi dengan melakukan standarisasi, serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk-produk dalam negeri, tanpa harus menutup keran impor. 

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah menjaga impor konsumsi, karena pertumbuhan kelas menengah menuntut pola konsumsi yang meningkat. 

"Pasar ini harus diisi barang lokal. Kalau masyarakat lebih suka jeruk pontianak, barang impor otomatis berkurang," kata Hatta dalam Musrenbangnas 2012, Kamis, 26 April 2012.

 

Berdasarkan catatan Kemenko Perekonomian, pertumbuhan impor barang konsumsi dari Januari ke Februari 2012 sebesar 16,9%. Jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan impor barang konsumsi tersebut tebilang lebih rendah, karena pada periode tersebut impor barang konsumsi Januari ke Februari 2011 naik 48,1%. 

Sementara itu, menurut komponennya, impor Indonesia didominasi oleh bahan baku 72%, dan barang modal 20%. Pada Februari 2012, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 41,2% didorong oleh impor mesin dan peralatan mekanik, mesin/ peralatan listrik, serta besi dan baja. Adapun impor bahan baku penolong naik 17,3%. 

Pengendalian impor produk yang berpotensi menurunkan daya saing produk domestik di dalam negeri, kata Hatta, merupakan salah satu upaya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6,5% pada 2012. 

Untuk itu, pemerintah berupaya meningkatkan pengawasan peredaran barang impor di pasar lokal sesuai dengan ketentuan SNI, labelisasi, karantina, dan HAKI, serta mempercepat pelaksanaan sentralisasi otomasi kepabeanan dan kepelabuhan untuk peningkatan pelayanan dan pengawasan. 

Selain menjaga impor barang konsumsi, pemerintah juga mewaspadai impor migas yang sepanjang 2 bulan pertama 2012 mencatat defisit sebesar US$0,2 miliar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sepanjang 2011 tercatat defisit perdagangan hasil minyak sebesar US$21,83 miliar, meski neraca perdagangan minyak mentah masih tercatat surplus US$2,61 miliar. Akibat besarnya impor hasil minyak, terjadi defisit dalam neraca perdagangan minyak sebesar US$19,22 miliar.

"Sektor migas kita sudah negatif, ini menggerogoti sektor pendapatan nonmigas. Kita perlu solusi, karena neraca perdagangan kita per Februari 2012 surplusnya turun 31,78% menjadi US$0,69 miliar," ujar Hatta.Untuk mencapai target pertumbuhan 2012, diperlukan pertumbuhan impor barang dan jasa sebesar 11,4% dibandingkan realisasi impor 2011 yang mencapai US$177,29 miliar atau sebesar US$197,5 miliar.

Sumber : Ana Noviani & Lavinda

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top