INDUSTRI KOSMETIK: Kartika Arta genjot produksi

 
Wike Dita Herlinda | 25 April 2012 14:52 WIB

 

SURABAYA: PT Kartika Arta Purnama bersama anak perusahaannya UD Fonda Mas bersiap-siap mendongkrak kapasitas produksi kosmetik berbasis herbal dari 26 ton per bulan menjadi 39 ton per bulan untuk mendukung penjualan di luar Jawa dan penajajakan pasar ekspor.
 
Direktur Kartika Arta Purnama (KAP) Frans Tata mengatakan saat ini kegiatan produksi pabrik kosmetik dengan merek Salsa Cosmetics ini baru dua shift
 
“Dalam waktu dekat kami akan menambah menjadi tiga shift untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi 30 ton per bulan,” ujarnya di Surabaya hari ini.
 
Saat ini, lanjut dia, rata-rata produksi Salsa Cosmetics baru sekitar 1 ton per hari  selama lima hari kerja atau 26 ton per bulan. Hampir separuh dari produksi yang sebagian besar merupakan produk skin care ini untuk memenuhi kebutuhan pasar di luar Pulau Jawa. Separuhnya lagi didistribusikan di Jawa.
 
Menurutnya penambahan kapasitas produksi yang rencananya akan dilakukan tahun ini juga itu selain karena kapasitas terpasang pabriknya memungkinkan juga sebagai upaya persiapan menjajaki pasar ekspor.
 
“Kami akan masuk pasar ekspor melalui Bali dengan menggandeng sejumlah usaha Spa herbal yang tersebar di sejumlah obyek wisata,” tambahnya.
 
Frans mengatakan memperkenalkan produk kosmetik herbal kepada pasar luar negeri lewat wisatawan asing lebih efektif dibandingkan dengan menembus sendiri pasar luar negeri. Apalagi sejauh ini proses pengurusan ekspor di Indonesia seperti  perizinan dan sebagainya tergolong terlalu lama. Apalagi jika jumlah barangnya tidak terlalu banyak.
 
Saat ini, lanjutnya, sudah mulai banyak pesanan beberapa produk skin care Salsa dari buyers di luar negeri. Dia berharap dengan menaikkan kapasitas produksi akan mendorong pertumbuhan penjualan perseroan yang saat ini diproyeksikan naik 20% dari posisi tahun sebelumnya.
 
Frans mengemukakan potensi pengembangan industri kosmetik di Indonesia cukup besar. Sayangnya untuk saat ini kebanyakan dikuasai PMA (Penanaman Modal Asing). 
 
“Teknologi skin care yang dimiliki perusahaan lokal tidak kalah dengan asing, apalagi yang menggunakan bahan baku herbal. Begitu juga dengan ketersediaan bahan bakunya yang berlimpah,” ujarnya.
 
Namun, menurut dia, industri lokal sering kalah dalam hal permodalan untuk dapat memperbesar industrinya termasuk biaya promosi seperti mengikuti pameran, Oleh sebab ang terlihat sekarang ini produk kosmetik dengan brand internasional lebih banyak dikenal pasar di Indonesia.
 
Begitu juga dengan peredaran produk impor yang juga semakin marak. Akan tetapi, menurut Frans sebagian besar dari produk tersebut cenderung membidik pasar menengah atas. Padahal pasar menengah bawah justru jauh lebih besar. 
 
“Alasan itulah yang membuat kami untuk menciptakan produk kosemetik herbal yang aman bagi kesehetan tetapi dengan harga terjangkau untuk segmen pasar menengah bawah,” ungkap Frans.
 
Apalagi dalam perkembangan sekarang kosmetik  sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok yang bukan hanya dominasi perempuan tetapi juga kaum pria khususnya untuk produk perawatan. Produk Kartika Arta Purnama sendiri cukup beragam mulai dari berbagai jenis sabun perawatan, keperluan spa, perawatan wajah, rambut  hingga kosmeik fashion. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top