PROPERTI Batam jadi alternatif investasi hotel & kondotel

 
Anggriawan Sugianto
Anggriawan Sugianto - Bisnis.com 24 April 2012  |  22:02 WIB

 

JAKARTA: Dalam beberapa tahun mendatang, Batam menjadi salah satu alternatif bagi pertumbuhan properti jenis hotel dan kondotel selain Bali.
 
Tony Eddy, Presiden Direktur lembaga konsultan pemasaran properti Tony Eddy & Associates, mengatakan Batam memiliki potensi yang cukup tinggi karena berdekatan dengan Singapura, yang merupakan salah satu pusat bisnis di Asia Tenggara.
 
“Saat ini tarif hotel di Singapura sangat mahal, sehingga banyak pebisnis yang lebih memilih untuk menginap di Batam,” ujarnya saat dihubungi Bisnis hari ini, Selasa 24 April 2012.
 
Rusmin Lawin, Sekjen Federasi Real Estate Internasional (FIABCI) Asia Pasifik menuturkan Batam sebagai kota yang intensitas hubungan intenasionalnya cukup tinggi, memang berpotensi untuk menarik investor baik dalam maupun luar negeri.
 
“Bisa jadi ke depannya, banyak orang yang bekerja di Singapura, tapi tinggal di Batam atau Johor Baru. Sebab, biaya hidup dan harga property di negeri singa itu sangat tinggi,” terangnya.
 
Sebagai perbandingan, dia memaparkan rerata harga properti di Indonesia hanya sekitar US$2.000-US$2.500 per m2, sementara di Singapura sudah mencapai US$15.000-US$30.000 per m2.
 
Sedangkan daerah lain seperti Bintan dan Manado, Tony menambahkan juga akan berkembang, namun tidak akan menyusul Batam ataupun Bali. Menurutnya, pasar untuk hotel dan kondotel di Bali dalam beberapa tahun ke depan masih bagus.
 
Dia mengaku tidak terlalu khawatir mengenai anggapan bahwa hotel maupun kondotel di Bali sudah kelebihan suplai. Sebab, hotel dan kondotel yang dibangun oleh pengembang dengan rekam jejak yang bagus, dikelola oleh operator yang baik, berada di lokasi yang strategis, dan memiliki konsep yang tepat akan memiliki tingkat okupansi yang cukup tinggi.
 
“Di musim liburan, mencari kamar hotel yang kosong di Bali sangat susah, itu menandakan kebutuhan di sana masih ada. Lagipula selama ini, hotel besar dengan brand ternama tingkat okupansinya tidak terkoreksi terlalu banyak akibat menjamurnya hotel baru,” terang Tony. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top