ALAT BERAT KONSTRUKSIVolume kebutuhan naik 20%

 
Linda Tangdialla | 24 April 2012 21:40 WIB

 

JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum memperkirakan kenaikan kebutuhan alat berat konstruksi hingga 2014 mencapai 20%, menyusul meningkatnya rencana pembangunan infrastruktur nasional dalam dua tahun kedepan.
 
Kepala BP Konstruksi Kementerian PU Bambang Goeritno mengatakan prediksi itu mengacu pada kebutuhan anggaran infrastruktur berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah, hingga 2014 mencapai Rp1.923 triliun.
 
Dengan tumbuhnya kebutuhan itu, diharapkan produsen alat-alat berat lokal bisa bertambah. “Selama ini produsen lokal hanya ada beberapa saja, mayoritas impor dari luarnegeri,” ujar Bambang dalam konferensi pers pameran perdagangan konstruksi 2012 di Jakarta hari ini.
 
Pasalnya, katanya, ketersediaan alat-alat berat saat ini belum terpenuhi. Misalnya saja, saat ini suplai alat berat yang tersedia saat ini baru mencapai 150.000 unit. Sedangkan total kebutuhan mencapai 210.000 unit sepanjang tahun.
 
Rinciannya, 168.000 unit untuk kebutuhan non infrastruktur dan infrastruktur sebesar 42.000 unit. Artinya, jika kenaikan diperkirakan mencapai 20%, maka kebutuhan alat berat diprediksi mencapai 252.000 unit pada 2014.
 
Suplai tersebut, diperkirakan bisa memenuhi utilitas sebesar 140% dari tingkat permintaan alat berat secara nasional. Sementara itu, jenis sektor konstruksi yang membutuhkan alat berat paling besar misalnya saja energi, pembangunan jalan, dan bangunan gedung.  
 
“Ada beberapa proyek infrastruktur besar yang akan membutuhkan alat berat banyak, misalnya saja pembangunan jembatan Selat Sunda, kereta bawah tanah MRT Jakarta, dan konstruksi green high rise building,” tambahnya.
 
Dari tiga proyek itu saja, menurut Bambang dapat meningkatkan pertumbuhan konstruksi hingga 15% pada 2014. Hal tersebut memperhitungkan kebutuhan anggaran yang besar untuk tiga proyek itu, yakni untuk JSS sekitar Rp150 triliun, dan MRT Rp17 triliun.
 
Selain peningkatan kebutuhan alat berat, Bambang mengatakan sumber daya konstruksi berupa bahan material juga belum terpenuhi dari produsen lokal. Sehingga sumbernya masih banyak diimpor dari luar negeri.
 
Karena itu, lanjutnya, pemerintah tengah mengkaji keseimbangan suplai dan demand sumber daya material dan peralatan konstruksi utama yang terdiri sari semen, baja, aspal dan alat berat tersebut.
 
Dihubungi terpisah, Corporate Communication Manager PT MRT Jakarta Manpalagupta Sitorus mengatakan secara total kebutuhan konstruksi MRT mencapai Rp17 triliun.
 
Kebutuhan itu, untuk pembangunan rel sepanjang 15.7 kilometer, dan 13 stasiun pemberhentian. Rinciannya, tujuh stasiun layang, dan enam bawah tanah.
 
"Dana itu untuk total kebutuhan proyek, termasuk untuk pengadaan unit kereta juga. Sementara itu untuk biaya konstruksi nilainya diusulkan oleh kontraktor penggarap. Pihak kami hanya mendisclosed besaran pinjaman saja," ujarnya. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top