KONVERSI BBMPilih BBG oktan 130 atau Premium oktan 88?

 
Aprianto Cahyo Nugroho | 24 April 2012 17:11 WIB

 

JAKARTA: Konversi bahan bakar minyak (BBM) Premium ke bahan bakar gas (BBG) dinilai lebih menguntungkan konsumen, karena BBG memiliki oktan 130 dan harganya setara dengan Rp3.100 harga per liter. Hal itu jika dibandingkan dengan harga Premium bersubsidi saat ini Rp4.500 per liter dan hanya memiliki kadar oktan 88.
 
Erwin Wijaya, direktur PT Setindo Raya sekaligus konsultan CNG (compressed natural gas), mengingatkan BBG menjanjikan banyak keuntungan bagi konsumen atau pemilik mobil.
 
"Selain oktannya lebih tinggi dan harganya lebih murah dibandingkan dengan Premium, BBG juga ramah lingkungan karena tidak mengandung SO2/NOx [sulfur dioksida/nitrogen monoksida]," ujarnya kepada Bisnis hari ini.
 
Seperti diketahui kemarin, Kementerian ESDM menandatangani nota kesepahaman pasokan gas dengan produsen gas. Sejumlah produsen gas berkomitmen memberikan pasokan gas untuk sektor transportasi tahun ini sebesar 35,5 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
 
Tahun ini, pemerintah akan membagikan 25.500 unit converter kit kepada kendaraan dinas dan angkutan umum. Pemerintah menargetkan upaya konversi ini bisa menghemat 0,3 juta kiloliter BBM atau subsidi BBM sekitar Rp1,5 triliun. 
 
Erwin menilai  pemerintah sebaikhya memperbanyak stasiun pengisian bahan bakargGas (SPBG) terlebih dahulu, baru memperbanyak converter kit, jika pemerintah ingin agar program konversi dari BBM ke BBG itu sukses. 
 
Dia berpendapat apa yang dilakukan pemerintah saat ini terkait program konversi, prosesnya itu terbalik.  “Di sini saya lihat banyak yang terbalik. Converter kit minta diadakan tapi tidak ada pengisiannya. Orang kalau pun dikasih converter kit tapi tidak ada tempat pengisiannya, saya rasa juga akan ditinggal,” ujarnya.
 
Erwin mengakui bahwa pembangunan SPBG memang harus bertahap, dimulai dari Jakarta, baru kemudian di Jabodetabek. Menurutnya, tidak ada masalah dari sisi lokasi maupun anggaran, jika pemerintah ingin serius merealisasikan program konversi ini. 
 
“Lokasi justru ngga jadi masalah. APBN juga sangat bisa men-support. Yang penting bagaimana masyarakat ada 100 tempat untuk pengisian, itu yang paling penting. Bagaimana menjadikannya di mata masyarakat itu ada, itu aja dulu,” ujarnya.  (sut)

 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top