PABRIK TEKSTIL tak diimbangi pasok tenaga kerja

 
News Editor | 24 April 2012 21:45 WIB

 

JAKARTA: Penambahan jumlah pabrik tekstil dan produk tekstil dalam beberapa tahun terakhir tidak bisa diimbangi oleh persediaan tenaga kerja berkeahlian lokal.
 
Staf Ahli Kementerian Perindustrian Sakri Widhianto memperkirakan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) membutuhkan sekitar 100.000 tenaga kerja setiap tahun, 1.000 orang di antaranya adalah tenaga kerja berkeahlian.
 
Tenaga kerja berkeahlian dibutuhkan untuk mengisi posisi operator mesin, perawatan peralatan dan mesin (maintenance), supervisor, quality control hingga pemasaran.
 
Sakri menjelaskan kebutuhan tersebut didorong oleh lonjakan investasi dalam sektor industri tekstil dan produk tekstil dalam beberapa tahun terakhir.
 
Data BKPM menyatakan pada 2010 ada sekitar 134 realisasi investasi proyek baru dalam sektor industri TPT yang kemudian meningkat menjadi 256 proyek pada 2011.
 
Realisasi tersebut terdiri dari 196 proyek penanaman modal asing dengan nilai investasi mencapai US$498,3 juta pada 2011.
 
Adapun realisasi penanaman modal dalam negeri dalam sektor industri TPT sepanjang tahun lalu mencapai Rp999,1 miliar yang terdiri dari 60 proyek.
 
Sakri memperkirakan sekitar 70% dari total jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap pabrik tekstil baru adalah tenaga kerja berkeahlian.
 
“Selain pabrik baru, 2.800—2.900 pabrik yang sudah ada juga butuh tenaga kerja. Sektor TPT saat ini butuh banyak sekali tenaga kerja,” katanya, hari ini.
 
Namun, dia mengungkapkan saat ini hanya ada 4 institusi pendidikan tinggi yang menyediakan program khusus dalam bidang TPT.
 
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (ST3) di Bandung menghasilkan sekitar 300 tenaga kerja berkeahlian tiap tahun, sedangkan 3 institusi lain masing-masing hanya meluluskan sekitar 20 mahasiswa ke angkatan kerja tiap tahun.
 
Ketimpangan antara kebutuhan dan persediaan tenaga kerja berkeahlian, jelas Sakri, memaksa pelaku industri menyerap tenaga kerja yang tidak berkeahlian khusus dari STM, SMK, maupun lulusan perguruan tinggi dari jurusan lain.
 
Kecenderungan tersebut menimbulkan disefisiensi dalam sektor industri TPT dalam bentuk waktu dan biaya pelatihan tenaga kerja baru.
 
Selain itu, Sakri memaparkan posisi-posisi yang membutuhkan keahlian khusus juga banyak diisi oleh tenaga kerja asing dari India, Taiwan, Hongkong dan China.
 
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudradjat mengatakan pertumbuhan perusahaan TPT baru di Indonesia didominasi oleh sektor industri pakaian jadi yang padat karya.
 
Dia menjelaskan API fokus mendorong investasi dalam industri garmen karena bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal yang sebagian besar tidak berkeahlian khusus.
 
API memproyeksikan realisasi investasi pendirian pabrik baru pada 2012 mampu menyerap sekitar 40.000 tenaga kerja, setelah pada 2011 mempekerjakan sekitar 70.000 tenaga kerja.
 
Pada 2011, jumlah perusahaan TPT bertambah 3,5% dari 2.880 unit pada 2010 menjadi 2.980 unit. Adapun jumlah pekerja dalam sektor industri tersebut pada tahun ini mencapai 
1,47 juta orang.
 
“Selama banyak unskilled labor dan dalam situasi industri yang agak sulit, garmen lebih potensial untuk menyerap tenaga kerja,” jelas Ade. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top