HARGA SUSU: GKSI minta ditetapkan Rp4.160 per liter

MALANG: Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Pusat mengusulkan harga beli susu di tingkat Industri Pengolahan Susu (IPS) sebesar Rp4.160 per liter. Harga tersebut dinilai ideal dalam menghadapi problem kenaikan biaya produksi di tingkat peternak.Ketua
News Editor | 23 April 2012 17:06 WIB

MALANG: Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Pusat mengusulkan harga beli susu di tingkat Industri Pengolahan Susu (IPS) sebesar Rp4.160 per liter. Harga tersebut dinilai ideal dalam menghadapi problem kenaikan biaya produksi di tingkat peternak.Ketua GKSI Pusat, Dedi Setiadi mengatakan saat ini harga susu yang dipatok IPS masih berkisar antara Rp3.400-Rp4.000 per liter. Namun, dari kisaran tersebut harga beli oleh IPS masih di bawah Rp4.000 per liter.“Rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) telah mendongkrak harga pakan ternak baik hijauan maupun konsentrat. Saat ini biaya produksi peternak rata-rata naik sebesar 20%. Sementara harga susu di tingkat IPS tetap,” kata Dedi usai penandatangan memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Senin (23/4).Harga susu Rp4.160 per liter tersebut, ujar dia, juga merupakan hasil telaah penghitungan yang dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi utamanya UB Malang.Jika dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara (Asean), harga susu Indonesia termasuk paling rendah. Di Malaysia harga susu sudah mencapai Rp5.400 per liter, sementara di Thailand Rp5.200 per liter, Filipina Rp4.800 per liter, dan Vietnam Rp4.200 per liter.“Apalagi sepanjang 2011 merupakan tahun yang sulit bagi peternak sapi perah. Dimana telah terjadi penurunan produksi susu sebesar 20%.”Produksi susu, lanjutnya, sangat bergantung pada kualitas pakan ternak. Kalau harga pakan tinggi, sementara harga susu tetap, maka peternak akan kesulitan untuk mengejar margin keuntungan. Untuk meningkatkan produktifitas susu harus ditunjang dengan pakan yang lebih baik.Sementara sejauh ini menurutnya belum ada data secara pasti berapa rata-rata produksi susu per ekor per hari di tingkat peternak. GKSI sendiri sudah mengusulkan agar pemerintah melakukan survey produksi tersebut dengan melibatkan pihak-pihak terkait termasuk kalangan perguruan tinggi (PT). Selama belum ada data resmi tentang produktifitas susu di tingkat peternak, maka upaya menuju swasembada susu akan sulit tercapai.“Terkait kenaikan harga susu, GKSI sudah melayangkan surat ke IPS, termasuk melakukan dengar pendapat dengan Komisi IV DPR. Kendati sejumlah IPS menyatakan siap menaikkan harga beli, namun sejauh ini harga susu masih tetap.”Selain itu, problema lain yang dihadapi peternak, menyusul mahalnya harga sapi impor yang mencapai Rp35 juta hingga Rp40 juta per ekor jika dibandingkan dengan sapi lokal yang hanya Rp10 juta per ekor. Sehingga di tingkat potensi bibit sapi menjadi lemah.Ketua GKSI Jawa Timur (Jatim), Abdi Swasono, mengatakan kendati Jatim merupakan penghasil susu tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain seperti Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Tengah (Jateng), namun harga susu peternak di Jatim yang disetor ke IPS belum naik.“Kita juga sudah melayangkan surat ke IPS terkait permintaan harga susu karena biaya pakan di tingkat peternak sudah sedemikian tinggi,” tambah dia. (faa)

Sumber : Muhammad Sofi'i

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top