SERAT SINTETISVolume penjualan kuartal I stagnan

 
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 23 April 2012  |  21:30 WIB

 

JAKARTA: Volume penjualan serat sintetis pada kuartal I/2012 diperkirakan sebesar 130.000 ton atau stagnan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
 
Sekjen Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (Apsyfi) Redma Wirawasta mengatakan hampir tidak ada kenaikan permintaan serat sintetis dari produsen tekstil di dalam dan luar negeri sepanjang kuartal I/2012.
 
Dia memperkirakan penjualan domestik serat poliseter (PSF) dan benang filamen pada kuartal I/2011 masing-masing sebesar 130.000 ton atau cenderung stagnan dibandingkan kuartal I/2012.
 
Permintaan serat sintentis di pasar domestik, menurutnya, tidak tumbuh akibat kelesuan permintaan dari pasar ekspor tradisional industri TPT dalam negeri di Eropa dan Amerika Serikat.
 
“[produksi industri] tekstil-nya juga cenderung stagnan karena itu pasar domestik tidak banyak berubah,” kata Redma, hari ini.
 
Produsen serat sintetis, lanjutnya, juga kesulitan menggenjot penjualan ekspor karena penurunan produksi industri TPT China yang menjadi pasar tujuan utama industri serat sintetis Indonesia.
 
Apsyfi memperkirakan konsumsi serat tekstil Indonesia diperkirakan tumbuh 3% pada 2012 dari 1,33 juta ton pada 2011.
 
Produksi poliester industri lokal diperkirakan tumbuh 6—8% pada 2012 dari 535.000 ton pada 2011 menjadi 577.800 ton. Sedangkan, produksi filamen diperkirakan tumbuh 3% pada 2012 dari 670.000 ton pada 2011 menjadi 690.100 ton.
 
Redma memperkirakan kenaikan penjualan serat sintetis baru terealisasi pada pertengahan tahun mendekati hari raya idul fitri.
 
“Sekitar lebaran biasanya penjualan bisa lebih tinggi 25—35% dibandingkan bulan lain. Saya rasa kenaikan BBM atau listrik tidak akan berpengaruh pada konsumsi sekitar lebaran,” katanya.
 
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudradjat mengatakan ekspor TPT Indonesia pada kuartal I/2012 hanya tumbuh sekitar 5%.
 
Dia menegaskan kinerja tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara industri TPT lain yang ekspornya merosot dibandingkan tahun lalu.
 
Adapun pasar TPT domestik, menurut dia, nilainya mencapai US$9 miliar dan terus tumbuh seiring penguatan daya beli masyarakat.
 
Ade memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mendorong konsumsi TPT per kapita Indonesia dari 6,8 kilogram pada 2010 menjadi 8,2 kilogram pada 2015.
 
Namun, dia mengakui struktur industri TPT Indonesia belum terintegrasi 100% hingga menyebabkan pasar tekstil domestik banyak diisi oleh produk impor.
 
“60% impor, untuk konsumsi produk jadi ataupun bahan baku. Kebanyakan dari China, selain itu Korea dan Thailand,” kata Ade. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top