KOSMETIK & PRODUK HERBAL: Masih terkendala bahan baku

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 23 April 2012  |  18:13 WIB

 

BEKASI: Pengembangan industri kosmetik dan produk herbal dalam negeri terkendala penyediaan bahan baku berkualitas dan memenuhi standar sehingga saat ini bahan bakunya masih bergantung pada impor.

 

Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengharapkan setiap perusahaan harus mengupayakan pengembangan riset, sumber daya alam, dan teknologi pengolahan.

 

Menurutnya, hal itu dilakukan agar perusahaan dalam negeri bisa menghasilkan bahan baku serta produk kosmetik dan herbal yang berkualitas dan sesuai standar.

 

Pemerintah akan akan memberikan dukungan dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif agar industri kosmetik dan produk herbal mampu bersaing dengan produk impor.

 

“Pesaing Indonesia dalam bisnis kosmetik dan herbal ini adalah Malaysia dan China. Mereka termasuk produsen yang juga melihat peluang bidang bisnis ini,” ujarnya, Senin 23 April 2012.

 

Dia menegaskan pemerintah akan terus menggenjot industri tersebut seiring dengan tingginya potensi bisnis tersebut.

 

Pada tahun lalu, ungkapnya, omzet kosmetik nasional mencapai Rp7 triliun, sedangkan omzet produk herbal mencapai Rp11 triliun.

 

Angka tersebut, ujarnya, diprediksi akan terus meningkat karena tingginya permintaan dari konsumen, baik dalam negeri maupun luar negeri.

 

Menurutnya, industri kosmetik dan produk herbal di era modern memiliki prospek cerah mengingat penggunaan produk kosmetik tidak lagi hanya sebagai kebutuhan sekunder yang digunakan kaum perempuan, melainkan juga berkembang menjadi kebutuhan primer.

 

“Bahkan, penggunanya telah merambah ke kalangan pria dan anak-anak,” ujarnya.

 

Selain itu, tren masyarakat untuk kembali menggunakan kosmetik berbahan alami juga semakin meningkat, sehingga membuka peluang dan kreativitas industri kosmetik di dalam negeri.

 

Hal itu, ujarnya, didukung dengan potensi tanaman obat, kosmetik, dan aromatik yang banyak tumbuh di Tanah Air dengan jumlah 30.000 spesies.

Bahkan, tegasnya, Indonesia merupakan negara penghasil tanaman obat, kosmetik, dan aromatik terbesar kedua setelah Brasil.

 

Selain mendorong tumbuhnya industri kosmetik dan herbal, kementerian juga berharap agar konsumen mewaspadai serangan produk ilegal.

“Produk ilegal harus diwaspadai penyebarannya,” tegasnya.

 

Pendiri Martha Tilaar Group, Martha Tilaar, menuturkan pihaknya baru bisa mengeksplorasi 700 spesies atau 2,3% dari total 30.000 jenis tanaman obat, kosmetik, dan aromatik yang ada di Indonesia.

 

“Potensi bisnis ini masih sangat besar sehingga kami akan fokus meneliti bidang ini dengan bekerja sama dengan Universitas Indonesia,” ujarnya.

Bryan Tilaar, Direktur Utama PT Martina Berto Tbk, mengatakan pihaknya masih fokus memenuhi pasar dalam negeri dengan persentase 98%, sedangkan 2% lagi untuk pasar ekspor.

 

Menurutnya, produk perusahaan telah diekspor ke beberapa negara, seperti Asia Tenggara, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat.

Pada tahun ini, ujarnya, kegiatan ekspor akan dikembangkan ke negara-negara di kawasan Asia Pasifik. 

“Kapasitas produksi telah kami tingkatkan. Saat ini jumlahnya telah mencapai 269 ton per tahun untuk memenuhi permintaan dalam negeri dan ekspor,” tuturnya.

 

Adapun pangsa pasar dalam negeri telah mencapai 18% untuk produk kosmetik dan 25% untuk produk herbal, seperti spa, lulur, jamu khusus wanita, dan berbagai produk lainnya.(ea)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Herdiyan

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top