JUMLAH DOKTER: Indonesia butuh tambahan spesialis jantung

JAKARTA: Indonesia masih kekurangan dokter spesialis jantung. Padahal penyakit jantung sekarang sudah menjadi pembunuh utama, menggeser kematian akibat penyakit infeksi.Selama 36 tahun berdirinya Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas
Adhitya Noviardi | 23 April 2012 20:52 WIB

JAKARTA: Indonesia masih kekurangan dokter spesialis jantung. Padahal penyakit jantung sekarang sudah menjadi pembunuh utama, menggeser kematian akibat penyakit infeksi.Selama 36 tahun berdirinya Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, baru melahirkan 361 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP). Sementara itu hingga saat ini di Indonesia baru ada 555 orang dokter SpJP."Angka itu masih sangat kurang memadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa. Idealnya satu dokter jantung bisa menangani 260.000 jiwa," kata Prof. Ganesja Harimurti, Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI, hari ini usai acara serah terima Sertifikat Akreditasi A (baik) untuk Program Studi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI, di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta.Sementara itu  Dokter Hananto, Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, mengatakan ada tiga komponen penting dalam mencetak dokter, yaitu kualitas kurikulum, kualitas staf pengajar, dan kualitas tempat pendidikannya. "RS Jantung Harapan Kita menjadi Pusat Jantung Nasional, sekaligus sebagai rumah sakit pendidikan. Sebentar lagi juga akan memperoleh akreditasi internasional. FK yang mendapat akreditasi A akan menghasilkan dokter yang ahli. Sedangkan RS yang diakreditasi Joint Commission International (JCI) akan lebih dipercaya," ungkap Hantanto.Menurut dia, perkembangan kardiologi dan pembuluh darah di Indonesia menjadi tanggung jawab banyak komponen. Antara lain rumah sakit, departemen kardiologo dan kedokteran vaskular, Perhimpunan Ahli Kardiologi Indonesia (Perki), dan Yayasan Jantung Indonesia.Usai acara syukuran serah terima sertifikat tersebut, dilanjutkan dengan peresmian patung almarhum Dr Sukaman, untuk mengenang jasa-jasanya sebagai perintis kardiologi Indonesia. Patung yang dibuat oleh Fajar, pematung asal Bantul, Yogyakarta itu, dipajang di sudut teras lobi RSJPD Harapan Kita. (faa) 

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top