PERDAGANGAN EKSPOR: Target pertumbuhan 12% tak tercapai

 
Febriany Dian Aritya Putri | 23 April 2012 16:42 WIB

 

JAKARTA: Kementerian Perdagangan memperkirakan nilai pada ekspor kuartal I/2012 tidak mencapai target pertumbuhan 12% dibandingkan dengan kuartal I/2011 akibat lesunya perekonomian global.
 
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan ekspor pada Januari-Maret 2012 maksimal hanya tumbuh 8% menjadi US$38,22 miliar, dibandingkan dengan Januari-Maret 2011 yakni US$35,59 miliar.
 
“Angka resmi ekspor dan impor kuartal I/2012 akan disampaikan nanti, tapi sampai saat ini kelihatannya berat. Pertumbuhan hanya 7% hingga 8% dari target 12% pada kuartal I/2012 karena imbas dari krisis memang cukup serius,” jelasnya.
 
Kendati demikian, lanjutnya, pemerintah belum merevisi target ekspor tahun ini yakni sebesar US$230 miliar atau meningkat sekitar 13% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu US$230 miliar.
 
Bayu menuturkan kementeriannya akan melihat secara detil apakah peningkatan ekspor pada Januari-Maret setiap tahunnya memang belum maksimal, dibandingkan dengan periode-periode berikutnya.
 
“Selain itu, data ekspor Indonesia dari Badan Pusat Statistik juga berbeda dengan yang ada di UN Comtrade milik PBB. Perbedaan data yang kita miliki sebesar 12%, cukup besar,” jelasnya.
 
Namun, katanya, perbedaan data tersebut tidak melulu berarti terjadi penyimpangan dalam kegiatan ekspor Indonesia karena bisa saja ada perbedaan kurs mata uang saat ekspor dan impor. 
 
“Atau kita menggunakan skema FOB [free on board] saat ekspor dan dicatat CIF [cost, insurance and freight] saat impor oleh negara tujuan. Ada perbedaan yang bisa dimengerti tapi ada juga yang harus dicermati. Seperti dengan China, ekspor kita masuk ke sana melalui negara ketiga, akan dilihat kenapa tidak bisa langsung,” jelasnya.
 
Wamendag mengatakan pihaknya juga telah mengantisipasi lesunya pasar di Amerika Serikat dan Eropa dengan melakukan diversifikasi ekspor ke negara-negara nontradisional seperti Afrika Selatan dan di kawasan Amerika Selatan.
 
Di Afrika Selatan, katanya, potensi cukup besar namun masih ada hambatan tarif bea masuk cukup tinggi mencapai 30% karena proteksi yang dilakukan pemerintah setempat terhadap industri akibat tingginya angka pengangguran.
 
“Kami meminta agar tarif [bea masuk] ke Afrika Selatan bisa diturunkan. Kalau semua bisa lancar, dalam jangka pendek sekitar 3-4 tahun perdagangan Indonesia-Afsel bisa ada tambahan US$500 juta,” kata Bayu.
 
Pasar ekspor baru 
 
Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan tahun ini ekspor memang akan tertekan karena Indonesia masih mengandalkan pasar tradisional sebagai negara tujuan.
 
Menurutnya, diversifikasi ekspor yang dilakukan pemerintah seperti ke Afsel juga tidak bisa menolong pelemahan permintaan barang asal Indonesia dari AS dan Eropa. Dibutuhkan waktu lama bagi Indonesia untuk bisa meningkatkan perdagangannya ke negara-negara nontradisional itu.
 
“Tidak bisa langsung meningkat perdagangan ke negara-negara nontradisional. Itu butuh waktu, jadi ya ekspor kita memang tertekan karena krisis global,” kata Natsir. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top