EKONOMI INDONESIA masih saja berkutat soal persoalan infrastruktur

JAKARTA: Pelaku ekonomi menilai kegiatan pembangunan dan penanaman modal di Tanah Air belum efisien dalam mendorong pertumbuhan ekonomi mengingat masih terjadi hambatan investasi dan kebocoran sumber daya ekonomi.Ahmad Erani Yustika, Direktur Eksekutif
- Bisnis.com 22 April 2012  |  16:19 WIB

JAKARTA: Pelaku ekonomi menilai kegiatan pembangunan dan penanaman modal di Tanah Air belum efisien dalam mendorong pertumbuhan ekonomi mengingat masih terjadi hambatan investasi dan kebocoran sumber daya ekonomi.Ahmad Erani Yustika, Direktur Eksekutif Instutute for Development of Economic and Finance (Indef), melihat kebocoran atau pemborosan sumber daya ekonomi masih banyak terjadi di Tanah Air.Hal itu yang membuat pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi belum efisien dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.“Itu (kebocoran atau pemborosan) khususnya SDA (sumber daya alam). Kita sebetulnya tidak pernah tahu secara persis berapa SDA  kita yang diproduksi setiap tahun,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu, 22 April 2012.Menurut Erani, semua data produksi SDA yang dikeluarkan pemerintah validitasnya lemah sehingga dipastikan ada kebocoran yang luar biasa besar.Ada sejumlah kendala yang membuat investasi di Indonesia menjadi kurang ekonomis, a.l. karena belum didukung oleh pengetahuan tenaga kerja yang bagus dan manajemen produksi yang mapan, serta dukungan infrastruktur yang belum memadai.“Seperti ketersediaan listrik. Produksi kadang-kadang terhenti karena listrik mati sehingga kapasitas mesin tidak optimal,” jelasnya.Hariyadi Sukamdani, Wakil Ketua Umum Kadin bidang Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Publik, mengakui bahwa investasi di Indonesia secara kuantitas terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.“Sejujurnya itu karena pemodal asing maupun dalam negeri yang memang niat berinvestasi. Sementara pemerintah kita sendiri kurang mendukung,” katanya.Kurangnya dukungan pemerintah, kata Hariyadi, terlihat dari masih rigidnya proses perijinan usaha, baik di tingkat pusat maupun daerah, dan minimnya dukungan infrastruktur dasar seperti listrik.“Hambatan investasi lainnya adalah tingkat suku bunga yang masih tinggi. Lalu untuk sektor padat karya itu yang memberatkan adalah makin mahalnya upah tenaga kerja,” tuturnya. (faa) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top