BISNIS LISTRIK: TNB Malaysia dekati PLN untuk beli listrik

JAKARTA: Tenaga Nasional Berhad (TNB), BUMN listrik Malaysia diketahui mulai mendekati PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk membeli listrik lintas negara sebesar 600 MW pada 2017.Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan CEO TNB sudah mengunjungi
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 April 2012  |  15:55 WIB

JAKARTA: Tenaga Nasional Berhad (TNB), BUMN listrik Malaysia diketahui mulai mendekati PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk membeli listrik lintas negara sebesar 600 MW pada 2017.Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan CEO TNB sudah mengunjungi PLN dan PLN akan melakukan kunjungan balasan pada minggu depan. Namun terkait harga listriknya, negosiasinya belum dimulai.“Yang jelas harganya bukan harga subsidi, kami belum mulai negosiasi. Minggu depan saya datang ke sana [Malaysia],” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara coffee morning di kantor Ditjen Ketenagalistrikan, hari ini, Jumat 20 April 2012.Listriknya nanti akan dipasok dari Sumatra ke semenanjung Malaysia. Nur mengatakan pada 2017, beban puncak Sumatra sudah 7.000 MW dan memiliki cadangan 40% sehingga kondisi kelistrikan sudah relatif aman. Selain itu, rasio elektrifikasi di Sumatra pada 2017 diperkirakan sudah di atas 90%.“Jadi kita ngga ngomong hari ini, kita ngomong untuk 2017,” ujarnya.Direktur Perencanaan dan Manajemen Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin menambahkan TNB memang sudah menyatakan mereka ingin membeli listrik dari Sumatra.Pertimbangannya adalah harga LNG yang semakin naik dan Sumatra dinilai memiliki banyak potensi batu bara.Saat ini PLN diketahui memiliki dua proyek pembangunan jaringan listrik lintas negara. Pertama adalah west kalimantan - sarawak interconnection project yang direncanakan mulai operasi pada Januari 2015.Kedua adalah sumatra - peninsular interconnection project yang direncanakan mulai operasi pada Oktober 2017.Murtaqi mengatakan yang sudah agak maju pembicaraannya adalah untuk proyek yang pertama. PLN dan Sarawak Energy Berhad (SEB) akan membangun jaringan listrik interkoneksi yang melintasi Kalimantan Barat dan Sarawak.Awalnya, PLN akan mengimpor 50 MW dari Sarawak. Pendanaannya nanti 50:50, sebagian dibiayai oleh PLN sendiri dan sebagian pinjaman dari  Bank Pembangunan Asia (ADB). PLN akan segera menyampaikan ke Menteri ESDM untuk minta izin pembelian listrik ini.“Skemanya sudah disepakati, pricing-nya masih bicara, transmisinya sudah direncanakan, pendanaannya sudah disiapkan. Kami beli listrik dari sana karena itu akan memperkuat cadangan kami.""Saat peak, harga pembangkitan kami jauh-jauh lebih besar, bisa sekitar Rp3.000 per kWh karena di sana pakai BBM,” ujar Murtaqi.Selain kedua proyek itu, PLN melalui PLN Batam diketahui juga berencana menjual listrik ke Singapura. Namun Murtaqi mengatakan hal itu masih belum terlalu konkrit.Sebelumnya, Energy Market Authority (EMA) Singapura sudah mengumumkan bahwa Singapura akan impor listrik.“Ketiga, ada potensi Batam dan Singapura. Ini juga salah satu potensi. Tapi kami belum lakukan pembicaraan dengan Singapura, ini sifatnya masih nunggu karena EMA beda sistemnya dengan di Indonesia mau pun Malaysia,” ujarnya.Murtaqi mengatakan setidaknya ada 3 manfaat dari terwujudnya interkoneksi antarnegara. Pertama, dimungkinkannya transfer energi yang harganya murah.Kedua, bisa dilakukan optimasi di antara dua sistem yang bisa saja sifat bebannya berbeda, misalnya yang negara satu beban puncaknya siang, sementara yang satu lagi malam. Ketiga, cadangan dari masing-masing sistem bisa dimanfaatkan secara bersama.Seperti diketahui, pemerintah sudah memberikan kewenangan bagi PLN dan perusahaan listrik lainnya untuk melakukan jual beli listrik lintas negara.Hal itu diatur melalui Peraturan Pemerintah No.42 Tahun 2012 tentang Jual Beli Tenaga Listrik Lintas Negara yang diteken oleh Presiden SBY pada 12 Maret 2012.“Intinya PLN siap memberikan satu showcase dalam pelaksanaan ekspor impor listrik yang payung hukumnya sudah disediakan pemerintah,” ujar Murtaqi. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top