RAWAN BENCANA: Cadangan pangan Indonesia rendah

 
News Editor | 19 April 2012 21:02 WIB

 

 

 

MALANG: Sebagai negara yang rawan terhadap bencana seperti banjir, longsor, dan gempa, Indonesia tergolong sebagai negara yang mempunyai cadangan pangan yang rendah.
 
 
Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Ahli Dewan Ketahanan Pangan Nasional yang juga Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Malang di bidang ekonomi pertanian, Prof. Nuhfil Hanani, mengatakan  sewaktu dalam kondisi darurat akibat bencana Indonesia gagal menyiapkan cadangan pangannya.
 
 
 
“Meski berbagai ancaman bencana alam rawan terjadi di Indonesia. Bahkan badan dunia yang mengurusi pangan dan pertanian yakni Food and Agricukture Organitation (FAO) mengeluarkan peringatan kepada Indonesia karena  cadangan pangannya terlalu rendah,” kata Nuhfil di UB Malang, Kamis malam, 19 April 2012.
 
 
Menurutnya, dibandingkan dengan Singapura misalnya, Indonesia masih kalah. Karena Singapura dinilai sebagai negara yang lebih siap dalam hal cadangan pangannya.
 
 
Karena itu, dalam naskah pidato pengukuhan guru besar berjudul Strategi Enam Pilar Ketahanan Pangan pada Selasa (24/4)  mendatang, Nuhfil menilai pemerintah tidak menggali potensi bahan makanan lainnya selain beras yang jumlahnya dinilai jauh lebih besar dari beras.
 
 
“Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan, persediaan bahan pangan non beras bisa mencapai sepuluh kali lipat seperti ubi, jagung, padi, kedelai, sagu, ketela dan bahan pokok lainnya. Hanya saja, kita banyak bergantung ke beras.”
 
 
Apalagi, lanjut dia, potensi pangan Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah Brasil. Indonesia diperkirakan memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 75 sumber lemak, 26 kacang, 389 buah-buahan, 228 sayuran, 48 bahan minimun, dan 110 tanaman rempah. Dan hal itu juga harus terus dikembangkan.
 
 
Untuk meningkatkan produktifitas pertanian, kata dia, dibutuhkan komitmen pemerintah untuk mendukung kebijakan pertanian antara lain meningkatkan anggaran produksi pangan, membuka akses daerah yang terisolir dan meningkatkan pendapatan petani. Jika hal itu tidak dilakukan maka Indonesia akan terancam rawan pangan.
 
 
Apalagi, sejak 2008 dunia mengalami krisis pangan. Meski hal itu tidak dirasakan karena Indonesia mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Semua ada di Indonesia.
 
 
“Namun hasil penelitian program pangan dunia (WFP) penduduk rawan pangan sekitar 14,4%. Jauh dibandingkan target FAO yang maksimal 5%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Indonesia tidak berhasil membangun ketahanan pangannya,” jelasnya.
 
 
Karena itu, ke depan Indonesia harus mengembangkan agro industri dan bisnis pangan. Karena selama ini petani hanya mengekspor produk mentah seperti minyak sawit mentah (CPO). Sedangkan negara maju yang mengembangkannya. Singapura misalnya ada es krim jagung manis. Dan Jerman punya jus labu.

Selain itu juga diperlukan diversifikasi pangan dengan makanan beragam dan bergizi seimbang. Karena Indonesia selama ini menjadi negara dengan konsumsi beras terbesar keenam di dunia. (msb)

 

 

Sumber : Mohammad Sofi'i

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top