ENERGI CBM: Anak usaha Pertamina siapkan dana investasi

 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 April 2012  |  19:49 WIB

 

JAKARTA : PT Pertamina Hulu Energi (PHE) siap membelanjakan dana lebih dari US$50 juta (sekitar Rp458,5 miliar)  hingga 2015 untuk pengembangan gas metana batu bara atau CBM  (coal bed methane). 
 
Budi Tamtomo, Vice President Assets of South Sumatera – Java & CBM PHE, mengatakan dana itu pada realisasinya nanti bisa lebih tinggi. Dalam rencana Pertamina hingga 2015, Pertamina akan mempercepat pembentukan Production Sharing Contract (PSC) CBM di area migas Pertamina. 
 
“Itu komitmen investasi tiga tahun pertama untuk melakukan pemboran lebih dari 50 sumur eksplorasi CBM dan studi g & g sebesar US$50 juta. Dalam perjalanannya nanti angka ini akan lebih tinggi,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara IndoCBM  hari ini. 
 
PHE menargetkan produksi CBM sebesar 100 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) yang diharapkan bisa tercapai pada 2015. Selanjutnya pada 2020, produksi ditargetkan meningkat menjadi 500 MMSCFD dan pada 2025 menjadi lebih dari 500 MMSCFD. Saat ini, PHE mengelola total 14 blok CBM, empat diantaranya PHE sebagai operator dan sisanya bermitra. 
 
“Untuk mencapai target produksi 100 MMSCFD itu ngga mudah, tapi kami masih optimistis hal itu bisa dicapai dengan pola kerja sama,” ujarnya. 
 
Budi mengatakan dalam terjun ke bisnis CBM ini, PHE menyiapkan tiga strategi utama. Pertama adalah demi mengamankan aset migas, mengingat aset CBM ini tumpang tindih (overlap) dengan tambang batu bara. Kedua, mengembangkan CBM untuk mengantisipasi turunnya produksi gas konvensional. Ketiga, PHE ingin menjadi pemain utama dalam bisnis CBM dengan pola kemitraan. 
 
“Posisi wilayah kerja Pertamina berada tepat di atas potensi CBM yang sangat baik, secara bisnis ini akan sangat menguntungkan bagi Pertamina,” ujarnya. 
 
Meski demikian, Budi mengakui mengelola CBM sarat dengan masalah di permukaan tanah, seperti tumpang tindih dengan wilayah kerja migas eksisting hingga tumpang tindih dengan wilayah kehutanan. Ditambah dengan adanya moratorium, lanjutnya, itu cukup membatasi pola atau pelaksanaan di lapangan. 
 
Dari 11 blok CBM yang dikelola PHE ditambah dengan 3 blok CBM yang baru saja ditandatangani kemarin, PHE menargetkan ada 2 blok CBM yang bisa berproduksi pada akhir tahun ini masing-masing sebesar 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Investasi kedua blok itu sudah menghabiskan dana hingga US$5 juta. 
 
“Ada dua PSC yang ditargetkan berproduksi tahun ini. Seharusnya berproduksi 2011 tapi karena CBM masih baru, ada masalah-masalah operasional dan pengadaan rig, jadi mundur ke 2012. Dua PSC itu di Sangatta-1 [Kalimantan] dan Tanjung Enim [Sumatra],” ujarnya. 
 
Dari produksi gas CBM itu, PHE berniat menjualnya kepada PLN agar bisa melistriki warga sekitar. Menurut Budi, setiap 1 MMSCFD gas CBM bisa memproduksi listrik hingga 3 MW yang bisa melistriki satu kecamatan. 
 
“Kami lagi proses secara internal. PLN sangat membantu kami untuk mempermudah prosesnya. Kami harap harganya antara US$7,5—US$8 per juta British thermal unit [MMBTU],” ujar Budi.   (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top