BATIK TULIS: Makin diminati konsumen menengah atas

SURABAYA: Produk batik tulis khas Surabaya semakin diminati kalangan menengah atas dengan harga jual berkisar Rp650.000 – Rp3 juta per lembar, melalui penonjolan motif legenda dan kepahlawanan kota tersebut.Besarnya peluang bisnis di sektor tersebut
News Editor | 18 April 2012 11:30 WIB

SURABAYA: Produk batik tulis khas Surabaya semakin diminati kalangan menengah atas dengan harga jual berkisar Rp650.000 – Rp3 juta per lembar, melalui penonjolan motif legenda dan kepahlawanan kota tersebut.Besarnya peluang bisnis di sektor tersebut mendorong para pembatik terus menciptakan motif-motif baru, guna membidik konsumen antara lain para pegawai negeri sipil (PNS) di instansi pemerintah di Jawa Timur yang diwajibkan mengenakan busana batik pada Kamis dan Jumat.“Kami telah menggeluti usaha batik sejak 2004 dengan memfokuskan terhadap motif khas Surabaya, melalui penggalian sejarah kota ini dari berbagai literatur guna menemukan kekhasannya,” ujar Putu Sulistiani, 55 tahun, produsen batik khas Surabaya, Rabu 18 April 2012.Dia mengaku merintis usaha tersebut atas keprihatinan tiadanya oleh-oleh khas Surabaya, di tengah menjamurnya bangunan mal maupun fasilitas bisnis modern di Kota Pahlawan.Saat ini wanita kelahiran Singaraja, Bali, yang mengoperasikan butik/galeri di bilangan Jemursari Utara, Surabaya itu mengaku mampu menjual sekitar 200 lembar batik per bulan, dengan harga berkisar Rp650.000/lembar kain katun dan bahan kain sutera Rp6 juta jenis sarimbit ( busana untuk laki-laki dan wanita).Motif-motif batik tulis buatan Putu digali dari legenda dan kepahlawanan Kota Surabaya antara lain Sawunggaling (tokoh dari pinggiran Surabaya yang terkenal memenangkan adu jago), semanggi (makanan khas Surabaya berbahan baku sayur semanggi), ikan suro dan buaya (lambang kota Surabaya).Dalam menjalankan kegiatan usaha pembatikan itu Putu didukung 33 karyawan, yang mampu menghasilkan produk hingga 15 lembar per hari.“Untuk memperkenalkan batik khas Surabaya, kami seringkali mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri yang difasilitasi BUMN,” papar Putu yang mengaku belajar membatik dari guru Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan Balai Batik Yogyakarta pada 2002.  (ra)

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Harga emas setelah naik turun

+ PAK DOMO, orang kuat itu mangkat

+ Liga Champions: Di balik kekalahan REAL MADRID

+ SIAPA di belakang sepak terjang DAHLAN ISKAN?

+ CEPAT ITU PENTING, kata Dahlan Iskan

+ Bakrie Telecom masih urus izin penyelenggaraan

Sumber : Adam A.Chevny

Tag :
Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top