WILMAR berkomitmen pelihara investasi di sektor agribisnis

 
Arif Budi Winarto
Arif Budi Winarto - Bisnis.com 15 April 2012  |  13:20 WIB

 

JAKARTA - Wilmar Indonesia berkomitmen untuk terus mengembangkan usahanya sebagai strategi turut membangun dunia usaha agribisnis di Indonesia.
 
Sejak 1991 hingga kini Wilmar telah menanamkan investasinya sebesar Rp33 triliun. 
 
“Investasi Wilmar di Indonesia Rp 33 triliun. Kami melihat potensi sumber daya yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. Selain itu tersedia pula market yang sangat besar di sini,” ungkap MP Tumanggor, Komisaris Wilmar Indonesia, kepada Bisnis hari ini.
 
Perusahaan yang bergerak dalam industri sawit dan olahannya itu kini bahkan terus mengembangkan bisnis dan industri gula dan pupuk. 
 
Dia mencontohkan perusahaan sedang membangun industri tepung terigu di kawasan industri PT Wilmar Nabati Indonesia Gresik, Jawa Timur, dan akan selesai pada 2013.
 
Selain itu, di kawasan Industri terpadu milik Wilmar di Gresik juga sedang dibangun sebuah bio refinery plant untuk mengolah minyak sawit menjadi jet fuel dan berbagai pengembangan industri turunan minyak kelapa sawit lainnya. Karena setidaknya ada 40 jenis turunan minyak kelapa sawit yang bisa dikembangkan, dan baru sekitar 20 jenis yang dikembangkan di Wilmar.
 
“Untuk itu kami sudah targetkan total investasi hingga dua tahun mendatang di kawasan Gresik ini sebesar US$300 juta atau sekitar Rp 2,7 triliun. Ini bagian dari total investasi yang akan dikucurkan oleh Wilmar di Indonesia hingga tiga tahun ke depan,” tambah Tumanggor.
 
CPO yang berasal dari kebun Wilmar sendiri hanya sekitar 20% - 30% saja. Selain itu Wilmar juga membeli sawit dari perusahaan perkebunan dan perkebunan milik BUMN. CPO yang dikelola Wilmar pada 2011 senilai US$ 7,09 miliar naik dari 2010 yang hanya US$ 5,5 miliar. Dari nilai produksi CPO 2011 itu 70% atau sekitar US$ 5 miliar adalah untuk ekspor.
 
“Untuk itu kami membayar pajak ekspor sebesar lebih kurang Rp4,6 triliun dan restitusi pajak yang kami terima sebesar Rp1,4 triliun. Artinya masalah pajak tidak ada yang ditutup-tutupi. Kalau ada salah hitung semua bisa diklaim dan kami selalu siap memenuhi kewajiban itu. Investasi kami di Indonesia sudah sekitar Rp33 triliun, karena itu kami sangat hati-hati dan tidak mungkin mengorbankan itu dengan menilap pajak,” jelas Tumanggor. 
 
Dia mengungkapkan hal itu karena WINA (Wilmar Nabati Indonesia) dan MNA (Musimas Nabati Indonesia) adalah anak perusahaan Wilmar Indonesia yang memperoleh predikat Wajib Pajak Patuh (WPP), apalagi Wilmar adalah perusahaan listed company di Singapura. “Kami tidak pernah sekalipun terpikir untuk bermain-main dalam pembayaran pajak.” 
 
Tumanggor juga menjelaskan bahwa Wilmar Indonesia memiliki andil hanya 15% dari Wilmar International yang bermarkas di Singapura.
 
Dari statistik, sambungnya, penjualan Grup Wilmar Indonesia pada 2007 sampai 2011 tercatat US$37,8 miliar atau setara dengan Rp360 triliun (63 % ekspor dan 37 % lokal). Pajak ekspor atau bea keluar yang dibayarkan oleh Wilmar Indonesia pada periode tersebut mencapai angka Rp 18,2 triliun, dengan restitusi PPN yang diterima pada 2007 sampai 2010 tercatat Rp 7,6 triliun.
 
Tumanggor juga menjelaskan bahwa Wilmar merupakan produsen biodiesel terbesar pertama di dunia, yaitu di Pelintung (Riau) dengan kapasitas produksi 1,6 juta ton per tahun. Produknya sebagian dijual ke Pertamina dan sebagian lagi ekspor. 
 
“Kami akan terus meningkatkann produksi biodiesel ini dengan menambah plant berkapasitas 1.000 ton per hari di Wilmar Nabati Gresik dan Wilmar Nabati Dumai, Riau 1.000 ton per hari,” ujarnya. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top