GAS INDUSTRI: PGN potong kuota Jatim 21%

JAKARTA: PT Perusahaan Gas Negara Tbk memotong jatah pemakaian gas pelanggan industri di Jawa Timur sebesar 21% dari kuota yang ditetapkan dalam kontrak.General Manager PT Ispat Indo, Pradeep Kochhar mengatakan pemotongan tersebut sudah dilaksanakan
Nancy Junita | 15 April 2012 16:11 WIB

JAKARTA: PT Perusahaan Gas Negara Tbk memotong jatah pemakaian gas pelanggan industri di Jawa Timur sebesar 21% dari kuota yang ditetapkan dalam kontrak.General Manager PT Ispat Indo, Pradeep Kochhar mengatakan pemotongan tersebut sudah dilaksanakan sejak 1 April 2012 kepada seluruh pelanggan industri PGN.PGN mengharuskan pelanggan industri membatasi pemakaian hingga 79% dari kuota yang disepakati dalam kontrak.Setiap penggunaan gas di atas 79% kuota pemakaian, jelas Kochhar, PGN mengenakan penalti biaya tambahan sebesar 300% dari harga normal kepada pelanggan.Sekjen Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Widjaya mengatakan pemotongan kuota tersebut sangat merugikan industri pengguna gas di Jawa Timur.Dia menjelaskan produsen tidak bisa meningkatkan produksi dan malah harus membayar biaya lebih besar jika ingin memanfaatkan kapasitas produksi yang ada dengan optimal.Saat ini PGN menetapkan harga US$8 - US$9 per juta british termal unit (MMBTU) untuk pelanggan di wilayah Jawa bagian timur.Konsumen di wilayah tersebut terdiri dari 92 pelanggan komersial, 11.892 pelanggan rumah tangga dan 322 pelanggan industri.Pemotongan kuota, jelas Achmad, mengulang kebijakan PGN pada tahun lalu saat pasokan gas pada industri dikurangi dari 250 juta kaki kubik per tahun (MMSFCD) menjadi 150 MMSCFD karena kerusakan di anjungan gas Santos.Dia memperkirakan PGN kembali harus memotong kuota gas karena pasokan gas dari trader maupun dari kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) kepada PGN tidak mencukupi.Tahun ini, menurut dia, industri di Jawa Timur membutuhkan gas sebesar 280 MMSFCD jika ingin beroperasi sesuai kapasitas terpasang.“Kenapa gas dikuasai oleh trader-trader yang tidak punya pipa, PGN yang milik negara dan punya pipa malah tidak kebagian? Ini harusnya didorong BP Migas, PGN juga jangan diam saja,” kata Achmad, hari ini.Ketua Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry Susanto mengatakan ketidakstabilan pasokan gas dari PGN membuat industri kewalahan menyesuaikan aktivitas produksi.Pelanggan industri, jelasnya, telah merencanakan jadwal dan target produksi pada awal tahun hingga tidak bisa mengurangi pemakaian gas di tengah tahun berjalan.“Jadi mau tidak mau mereka pakai gas lebih dari kuota yang baru dan terus membayar penalti tersebut,” jelas Henry.Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengatakan persediaan gas untuk daerah Jawa Timur masih sangat terbatas.Dia menjelaskan PGN harus mengurangi kuota dan menetapkan biaya surcharge untuk menjaga kestabilan dan kinerja jaringan pipa gas.“Secara prinsip [surcharge] untuk mendisiplinkan pelanggan, kalau tidak bisa mengganggu atau mengambil jatah gas pelanggan lain,” kata Heri. (faa)

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top