AYAM BROILER: Pemerintah tegaskan tak ada rencana impor

 
Febriany Dian Aritya Putri
Febriany Dian Aritya Putri - Bisnis.com 15 April 2012  |  13:29 WIB

 

JAKARTA: Kementerian Perdagangan menepis isu adanya rencana impor daging ayam broiler dari Brasil.
 
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag mengatakan daging ayam lokal masih bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.
 
Adapun ketersediaan daging ayam di Indonesia diantaranya bisa dipenuhi melalui impor bibit ayam (grand parent stock/GPS) untuk memproduksi anak ayam (day old chicken/DOC), dan diternak.
 
“Tidak ada impor dari Brasil, suplai dalam negeri cukup. Tingkat suplai di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan,” katanya hari ini.
 
Pada 2012, impor GPS unggas diprediksi mencapai 450.000 ekor atau meroket dibandingkan dengan tahun lalu sebanyak 34.240 ekor.
 
Sementara itu, produksi DOC tahun ini adalah 1,8 miliar ekor dibandingkan dengan tahun lalu 1,6 miliar ekor.
 
Gunaryo menuturkan selama ini Indonesia rata-rata memang tidak pernah melakukan impor daging ayam.
 
Namun, lanjutnya, daging ayam bisa diimpor jika ada kejadian tertentu yang bisa mengancam suplai yakni seperti adanya virus penyakit.
 
“Impor bisa dilakukan kalau ada penyakit di ayam yang ada di dalam negeri. Tapi, kalau pun kurang akan ada substitusi dan pemerintah mengutamakan dari lokal,” jelas Gunaryo.
 
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan tingkat konsumsi daging ayam di dalam negeri masih rendah yakni 7 kilogram per kapita per tahun.
 
Sementara itu, lanjutnya, konsumsi daging ayam di Brasil cukup tinggi yakni 30 kilogram per kapita per tahun.
 
“Ini pekerjaan rumah kita dalam jangka panjang, kalau ingin relevan dengan kondisi ekonomi [Indonesia] ke depan,” jelasnya.
 
Gita sebelumnya juga menyoroti rendahnya konsumsi daging sapi yakni 2 kilogram per kapita per tahun, sehingga mencanangkan target konsumsi daging sapai mencapai 20 kilogram per kapita per tahun.
 
Saat ini perhitungan konsumsi daging per kapita oleh pemerintah diambil dari total produksi unggas dibagi dengan jumlah penduduk.
 
Sebagai gambaran, konsumsi daging ayam di dalam negeri saat ini sekitar 7 kilogram per kapita per tahun, dan pada 2022 bisa mencapai 15 kilogram per kapita per tahun.
 
Sebelumnya, Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Tri Hardiyanto mengatakan daging ayam Brasil berpotensi menyerbu pasar Tanah Air melalui harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga di dalam negeri.
 
“Wajar, Brasil gencar untuk dapat memasukkan daging ayam ke Indonesia. Secara regulasi, impor itu dimungkinkan. Kondisi itu jelas mengancam pelaku usaha skala besar,” katanya.
 
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengakui ada perbedaan pandangan di antara pelaku peternakan di Tanah Air untuk memajukan industri unggas.
 
“Industri harus mengantisipasi tekanan dari luar [impor daging ayam dari Brasil]. Peran itu juga harus FMPI [Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia] sehingga produk dalam negeri tetap bisa berjaya di dalam negeri,” katanya.(sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top