LIDAH BUAYA: Petani kesulitan pasar

PONTIANAK: Petani lidah buaya di Pontianak, Kalimantan Barat, mengeluhkan sulitnya mencari pasar untuk produk yang dikenal dengan nama lain aloe vera itu.Urai Muhamad Syah, Kepala UPTD Agribisnis Kota Pontianak, mengatakan saat ini lahan tanaman lidah
News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 April 2012  |  10:24 WIB

PONTIANAK: Petani lidah buaya di Pontianak, Kalimantan Barat, mengeluhkan sulitnya mencari pasar untuk produk yang dikenal dengan nama lain aloe vera itu.Urai Muhamad Syah, Kepala UPTD Agribisnis Kota Pontianak, mengatakan saat ini lahan tanaman lidah buaya di Pontianak sekitar 50 hektare."Jumlah ini sudah susut daripada tahun-tahun lalu yang mencapai ratusan hektare," ujarnya kemarin di sela-sela kunjungan peserta BIMP-EAGA SME Cluster Meeting dari Brunei, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.Penyusutan ini seiring melemahnya pasar lidah buaya khususnya untuk ekspor ke Malaysia. Puncak produksi terjadi sekitar 2004 dengan pasar utama Johor.Ekspor, katanya, dihentikan karena biaya pengiriman dan pengemasan daun lidah buaya segar mahal. Daun itu, katanya, hanya tahan 15 hari dan tidak boleh terbentur-bentur."Petani siap memproduksi, namun berharap pemerintah membantu mencarikan pasar dan pembeli," tambahnya.Urai mengatakan kebun seluas 1 hektare bisa menghasilkan 12 ton daun lidah buaya segar setiap bulan. Saat ini, harga pembelian di petani sebesar Rp1.200 per kg.Daun lidah buaya bisa diolah menjadi minuman, makanan, bahan kosmetika, shampo, serta bahan medis. Proses panen dilakukan dua minggu sekali.Menurut Urai, lidah buaya sangat mudah ditanam, mudah beranak pinak. Selain itu, kondisi udara dan tanah Kalimantan sangat cocok sehingga memungkinkan lidah buaya tumbuh besar. "Ketika ditanam di Jawa atau di China tumbuhnya tidak sebesar di Kalimantan."Proses dari awal menanam hingga panen memerlukan waktu 1 tahun. Namun setelah ditanam lidah buaya bisa terus dipanen hingga bertahun-tahun tanpa ditanam ulang. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Setyardi Widodo

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top