ANGKUTAN UMUM: Penumpang wanita agar lebih waspada

JAKARTA: Kaum wanita penumpang transportasi umum diminta lebih waspada menyusul insiden pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan di dalam kendaraan umum, termasuk taksi, yang sangat mungkin terjadi.Demikian ungkap Sekjen Masyarakat Transportasi
News Editor | 13 April 2012 01:39 WIB

JAKARTA: Kaum wanita penumpang transportasi umum diminta lebih waspada menyusul insiden pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan di dalam kendaraan umum, termasuk taksi, yang sangat mungkin terjadi.Demikian ungkap Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MPI) Ellen Tangkudung ketika dimintai pendapatnya soal kasus dugaan pelecehan sekual penumpang taksi, yang belakangan ini kerap terjadi. 

 

Ellen juga menyatakan bahwa kewaspadaan menjadi kunci agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, bukan hanya pelecehan seksual. Menurut Ellen, reputasi bisa menjadi salah satu ukuran ketika memilih taksi.  Karena reputasi tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Ellen pun menyarankan agar memilih taksi yang memang memiliki reputasi cukup baik. Namun jika terpaksa menggunakan taksi yang reputasinya belum dikenal, sebaiknya lebih waspada. Misalnya jangan sampai tertidur di taksi."Lebih baik selalu  mengirimkan pesan kepada teman atau keluarga mengenai identitas taksi yang digunakan dan memberitahu keberadaan kita," ujar Ellen.Atas peristiwa dugaan pelecehan seksual  yang terjadi pada artis berinisial JM oleh seorang sopir taksi, Ellen menilai, kesalahannya bukan pada manajemen perusahaan taksinya. "Dalam kasus JM,  Blue Bird tidak bersalah," ungkapnya. Sebab, secara prosedur, sopir berinisial RM tersebut telah melalui sejumlah proses mulai dari rekrutmen dan pelatihan hingga dinyatakan memenuhi kualifikasi. Bagaimana pun, kata Ellen, sopir adalah manusia yang memiliki karakteristik unik satu dengan yang lainnya, dan berpotensi melakukan kesalahan, meskipun telah dinyatakan memenuhi kualifikasi oleh system yang digunakan manajemen perusahaan taksi.

Dia menilai Blue Bird telah melalui sejumlah proses untuk membangun reputasinya.  "Mulai dari proses rekrutmen hingga standar pelayanan bagi penumpang," jelas Ellen. Sejauh ini, menurut Head Of Public Relation Blue Bird Teguh Wijayanto, manajemen perusahaan telah menonaktifkan sopir berinisial RM, yang menjadi tertuduh dalam kasus pelecehan seksual tersebut. Sebab, kata Teguh, Blue Bird tidak bisa mentolerir perilaku yang bisa dikategorikan mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang.Ellen menilai, langkah manajemen Blue Bird tersebut sudah cukup baik untuk mendukung penuntasan kasus tersebut. Ia berharap, masyarakat, khususnya para wanita, tidak perlu takut untuk menggunakan taksi atau angkutan umum. "Tetapi harus tetap waspada," ujarnya.  (Antara/arh)

Sumber : Newswire

Tag :
Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top