SAPI LOKAL sanggup penuhi kebutuhan daging domestik

 
Yeni H. Simanjuntak | 12 April 2012 21:30 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah menilai pasokan sapi lokal masih dapat mencukupi kebutuhan di dalam negeri, kendati distributor sudah mengeluhkan kelangkaan pasokan dan para importir sudah meminta tambahan kuota impor.
 
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan stok daging sapi lokal masih dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, sehingga tidak perlu ada tambahan kuota impor.
 
"Masih dapat dioptimalkan [stok daging sapi lokal]," ujarnya kepada Bisnis .
 
Populasi sapi potong yang bisa dipotong pada tahun ini sebanyak 2,7 juta ekor, sapi perah 22.000 ekor, dan 348.000 ekor kerbau, sehingga terdapat stok potensial sebanyak 3 juta ekor. 
 
Namun, kondisi di lapangan, populasi sapi dan kerbau tersebut tersebar dan kesulitan transportasi, sehingga potensial stok itu dikurangi sebesar 20%, menjadi 2,4 juta ekor yang dapat dipotong pada tahun ini setara dengan 399.000 ton daging dan jeroan.
 
Berdasarkan faktor koreksi itu, hanya 80% dari ternak potensial yang benar-benar dapat dimanfaatkan menjadi stok.
 
Potensial stok sapi yang dapat dipotong itu terdapat di Jawa sebanyak 40,8%, Sumatra 20,7%, Nusa Tenggara Timut dan Bali 18,2%, Sulawesi 15,4%, Kalimantan 3,3% dan sisanya di Papua dan Maluku.
 
Sementara itu, konsumsi daging sapi per kapita per tahun untuk 2012 sebesar 1,87 kg, tingkat pertumbuhan penduduk diasumsikan 1,5% per tahun, pertumbuhan ekonomi 6,7%, dan elastitisas permintaan sapi 1,2 sebagai koreksi Hari Besar Keagamaan, sedangkan jumlah penduduk Indonesia 242 juta orang, sehingga total konsumsi atau permintaan daging 2012 sebanyak 484.000 ton.
 
Oleh karena itu, defisit daging sapi tahun ini 85.000 ton yang akan diimpor dalam bentuk daging sapi beku 34.000 ton dan sapi bakalan 283.000 ekor sapi setara dengan 51.000 ton.
 
Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan importir menghadapi kesulitan untuk menyerap sapi lokal. 
 
"Harga sapi lokal tinggi, belum lagi ongkos angkut dari Surabaya ke Jakarta, biaya operasional mencari sapi ke daerah, apalagi ada distribusi penjualan sapi dari blantik ke blantik," ujarnya.
 
Dia menuturkan harga daging sapi lokal hidup Rp28.000 per kg lebih mahal dibandingkan dengan sapi impor. "Jumlah sapi lokal juga tidak mencukupi, karena lokasi terpencar-pencar."
 
Thomas meminta pemerintah mengevaluasi pasokan dan permintaan daging tahun ini. Menurutnya, importir sudah meminta pemerintah mengevaluasi pasokan daging, tetapi sampai saat ini pemerintah belum merespon permintaan itu.
 
Kuota impor daging sapi beku pada semester I/2012 sebanyak 20.400 ton dan semester II sebanyak 13.600 ton. Padahal, kebutuhan daging pada semester II lebih banyak dibandingkan dengan semester pertama tahun ini, karena ada hari besar keagamaan pada semester kedua. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top