INDUSTRI SAWIT: Pengusaha & pemerintah bersinergi redam isyu miring

 
News Editor | 12 April 2012 18:43 WIB

 

BANDUNG: Pemerintah melalui Kementerian Pertanian melakukan pendekatan kepada Amerika Serikat untuk meredam isyu negatif terkati produk sawit Indonesia.
 
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joefly J. Bahroeny mengakui isu yang dihembuskan oleh Amerika ada imbasnya. 
 
Namun dengan kunjungan menteri pertanian dan Gapki beberapa waktu lalu, Amerika sudah mulai membuka diri. “Kita sudah interaksi face to face. Tuduhan pada kita tidak seperti yang mereka pikirkan,” katanya. 
 
“Kalau kita bicara (tuduhan) China tetap beli, india tetap beli, ekstremnya eropa yang menyerang begitu gesit tetap beli,” katanya dalam Munas Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) hari ini
 
“Nama citra baik kita seolah tidak memperdulikan lingkungan, kenapa ada pembunuhan pada orang utan, kenapa pembakarannya tidak benar. CPO itu end product dari isu-isu yang dikembangkan,” katanya. 
 
Jika isyu tersebut dihembuskan Eropa menurut Joefly hal tersebut disebabkan karena eropa tidak mampu bersaing dengan produksi Indonesia. “Biaya produksi US$250-US$300 per hektare, Eropa US$600 per hektare. Produksi kita 4-5 ton per hektare, Eropa tidak bisa bersaing,” katanya. 
 
Saat ini memang yang mengganjal adalah soal emisi karbon, menurut Joefly, di waktu yang akan datang isu baru akan kembali menyerang. “Besok kalau soal karbon ini sudah clear, akan timbul lagi,” katanya. 
 
Para pengusaha menurutnya sudah terbiasa dengan beragam isu yang menghantam. Dari soal kandungan kolesterol, kontiminasi di Belawan, sampai lingkungan. “Sampai kiamat pun (kampanye negatif) ada,” cetusnya. 
 
Amerika baru-baru ini lewat Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan hasil analisa jika kelapa sawit Indonesia dianggap tidak memenuhi standar bahan dasar produksi bahan bakar hayati (biofuel) di Amerika. 
 
Ini karena emisi gas CO2 yang dihasilkan dalam proses pembuatannya dinilai kurang efisien. Standar EPA mengharuskan sumber energi terbarukan, seperti biofuel, dapat mengurangi emisi CO2 minimal sebanyak 20% dari penggunaan bahan bakar berbahan baku minyak, sedangkan menurut perhitungan mereka, biofuel yang dibuat dari minyak sawit hanya dapat mengurangi emisi CO2 dalam kisaran 11%-17%. (sut) 

Sumber : Wisnu Wage Pamungkas

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top