INDUSTRI SAWIT nasional dihadang kampanye negatif

 
News Editor | 12 April 2012 18:37 WIB

 

BANDUNG: Industri kelapa sawit dalam negeri dinilai tengah menghadapi perang global dengan maraknya black campaign soal industri tersebut. 
 
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, mengatakan klaim Amerika Serikat yang mengatakan CPO Indonesia memiliki ambang emisi yang melampaui ketentuan itu tidak benar.  
 
“Penelitian menunjukan ini tidak betul. Ini sudah kita sampaikan dalam pertemuan bilateral. Kita menunggu pertemuan [lanjutan]. Kalau ada unfair treatment dalam perdagangan harus kita lawan, tapi kita harus punya data yang akurat untuk membantah itu,” katanya dalam Munas Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) hari ini.
 
Dia menambahkan termasuk soal isu kerusakan lingkungan yang dihembuskan Uni Eropa. “Kita punya Expo Indonesia Internasional Palm Oil, semua anggota harus masuk di dalamnya. Kalau dalam roundtable RSPO [Roundtable on Sustainable Palm Oil] itu keluar, karena kita merasa diperlakukan tidak adil,” kata Hatta. 
 
Hatta menyatakan pemerintah menurutnya menilai apa yang sudah dipenuhi Indonesia dalam RSPO ternyata tidak bisa menikmati harga premium. “Kita ingin ada suatu keadilan dalam perdagangan ini, jangan diskriminasi,” katanya. 
 
Menteri Pertanian Suswono mengatakan pemerintah dan pengusaha harus melawan balik kampanye negatif yang dibidikan pada industri CPO Indonesia, salah satunya soal Isu pembunuhan orangutan. 
 
“Kita akan ajak mereka duduk bersama soal orang utan ini. Kalau perlu mereka datang ke lapangan, supaya mereka tahu upaya konservasi orang utan yang kita lakukan,” katanya.
 
Soal emisi di bawah ketentuan pihaknya justru melihat banyak dipengaruhi kepentingan politik meskipun tudingan tersebut tidak benar. “Lobi para petani kedelai di Amerika itu begitu kuat, sampai Presiden Amerika pun bisa ditekan. Buktinya pertemuan bilateral tanggal 27 Maret kemarin diundur lagi,” katanya. 
 
Dia menilai upaya pihak di Amerika menyerang CPO Indonesia tidak akan bertahan lama. “Amerika sangat membutuhkan Indonesia. Karena Indonesia merupakan target eksport pertama mereka,” kata Suswono. (sut)

Sumber : Wisnu Wage Pamungkas

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top