PERJANJIAN MULTILATERAL: ACFTA tak akan dinegosiasi ulang

JAKARTA: Perjanjian kerja sama perdagangan bebas Asean-China (ACFTA) tidak akan dinegosiasi ulang.Dubes China untuk Indonesia Liu Jianchao mengatakan ACFTA sukses meningkatkan perdagangan dan investasi negara-negara Asean dan China.Dia menuturkan sampai
Febriany Dian Aritya Putri | 12 April 2012 14:53 WIB

JAKARTA: Perjanjian kerja sama perdagangan bebas Asean-China (ACFTA) tidak akan dinegosiasi ulang.Dubes China untuk Indonesia Liu Jianchao mengatakan ACFTA sukses meningkatkan perdagangan dan investasi negara-negara Asean dan China.Dia menuturkan sampai saat ini belum ada usulan dari pihak manapun untuk menegosiasi ulang perjanjian kerja sama itu.“ACFTA mempunyai masa depan yang bagus. Neraca perdagangan Indonesia dan China pada dasarnya seimbang, kita memiliki data statistik yang berbeda. Kami juga memperhatikan struktur, dimana yang bisa dilakukan adalah memperbaiki struktur dan kualitas dalam ACFTA,” katanya siang ini.Liu meyakini implementasi ACFTA membantu China dan negara-negara Asean dalam hal perdagangan.“Saya percaya perjanjian itu sangat membantu perdagangan China dan Asean, serta membawa keuntungan bagi masyarakat,” jelasnya.Dirjen Kerja sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan ACFTA memang tidak akan dinegosiasi ulang.Menurutnya, ada kekeliruan persepsi antara negosiasi ulang dengan penyeimbangan neraca perdagangan antara China dan Asean.“Yang akan dilakukan bukan renegosiasi, tetapi rebalancing perdagangan. Itu hal yang berbeda. ACFTA tidak akan direnegosiasi.” jelasnya.Dia memaparkan pembahasan terkait penyeimbangan perdagangan itu akan dilakukan mulai pertengahan tahun ini, antara Indonesia-China dan juga Asean-China.Iman menjelaskan strategi penyeimbangan perdagangan bisa melalui sejumlah cara diantaranya adalah mewajibkan China membeli barang tertentu dari Indonesia atau Asean, lalu kerja sama promosi, dan juga capacity building di sejumlah sektor.Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan pengusaha nasional ingin adanya perdagangan yang lebih berimbang dengan China,.Dia menuturkan defisitnya neraca perdagangan negara-negara Asean dengan China bisa diimbangi melalui peningkatan investasi negara itu.“Perdagangan [China ke Asean] meningkat tajam, tetapi investasinya tidak. Harus mendorong  pemerintah dan pengusaha China untuk mengimbangi perdagangan yang meningkat dengan investasi ke sini,” katanya.Suryo menuturkan saat ini investasi China ke Asean sekitar 5% dari total investasi ke negara-negara Asean.“China sebaiknya meningkatkan investasi ke Asean, jangan hanya membanjiri produk-produknya ke Asean. Saya juga mendengar banyak penyelundupan. Renegosiasi ulang ini kan ada karena ketimpangan di perdagangan yang terjadi,” katanya.Pada Januari-Februari 2012, Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan China mencapai US$1,47 miliar, atau jauh melebar dibandingkan dengan Januari-Februari 2011 sebesar US$982 juta.Dalam dua bulan pertama tahun ini, ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar US$2,9 miliar sementara itu impor dari China mencapai hampir dua kali lipat yakni US$4,4 miliar.Ketua Umum Asosiasi Merek Indonesia (AMIN) Putri Wardhani mengatakan pemerintah perlu menyadari besarnya pasar yang dimiliki Indonesia, sehingga jangan hanya menjadi tujuan ekspor produk-produk China tanpa bisa mengembangkan ekspor ke negara itu.“Indonesia adalah negara terbesar kedua setelah China dalam ACFTA. Setelah mengalami lebih dari 2 tahun pemberlakuan ACFTA, banyak catatan yang perlu dirembukkan kembali diantara negara peserta. Ketidaksetaraan manfaat perlu direnegosiasikan,” jelasnya. (faa)

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top