INDONESIA harapkan pemulihan ekonomi Eropa & AS

 
Febriany Dian Aritya Putri
Febriany Dian Aritya Putri - Bisnis.com 11 April 2012  |  20:58 WIB

 

JAKARTA: Menteri Perdagangan Gita Wirjawan berharap Amerika Serikat dan Eropa dapat keluar dari tekanan lonjakan harga minyak dunia di tengah krisis fiskal dan moneter yang tengah dihadapi.
 
Mendag menuturkan saat ini AS dan negara-negara di Eropa Barat jelas semakin tertekan, khususnya terhadap kondisi moneter mereka.
 
“Ada ancaman dari naiknya harga minyak, yang menghasilkan ketidakpastian. Tapi saya percaya Eropa Barat dan AS bisa mengatur dan memperbaiki ekonominya,” jelasnya hari ini.
 
Di satu sisi, lanjutnya, AS juga dalam masa menjelang pemilu sehingga juga mengalami tekanan politik.
 
Eropa dan AS merupakan tujuan ekspor tradisional Indonesia, sehingga melemahnya kondisi perekonomian di sana bisa berdampak ke penurunan ekspor nasional. Krisis di dua wilayah itu juga menyebabkan lesunya perekonomian global.
 
Lesunya ekonomi sudah dirasakan, surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2012 sebesar US$692,8 juta atau melemah dibandingkan dengan bulan sebelumnya mencapai sekitar US$1 miliar.
 
Sementara itu, mendag mengatakan China juga akan menghadapi permasalahan konsumsi pasar domestik karena kebijakan satu keluarga satu anak.
 
“China memproyeksikan 7,5% pertumbuhan ekonomi, ini akan menjadi tantangan. Untuk mencapai angka itu, China harus memprioritaskan konsumsi domestik. Sulit, karena mereka tidak memiliki kondisi demografi yang mendukung itu,” jelasnya.
 
Dia memaparkan dalam 10 tahun ke depan China akan memiliki 600 juta orang dengan umur 60 tahun ke atas, lalu India sebanyak 500 juta orang dengan umur 25 tahun ke atas, dan Indonesia 150 juta orang dengan umumr 25 tahun ke bawah.
 
“Ini potensi bagi Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan, saya pikir kita bisa stay bullish selama bisa bekerja sama,” paparnya.
 
Gita menjelaskan Indonesia saat ini bergabung dengan negara-negara dengan PDB US$1 triliun pada tahun lalu. Adapun dia meyakini PDB Indonesia pada 2030 akan mencapai US$9 triliun, seperti yang diperkirakan oleh sejumlah analis.
 
“Akumulasi PDB 2010 hingga 2030 kira-kira sebesar US$60 triliun, asumsi ini dengan 30% dari itu adalah investasi. Potensi perdagangan juga besar, kalau Indonesia bisa memanfaatkan pasar domestik yang didukung banyak generasi muda,” jelasnya.
 
Gita mengatakan Indonesia saat ini berada di jalur yang tepat untuk dapat semakin maju, dengan tantangan ke depan adalah gejolak demokrasi, birokrasi, dan ketidakmampuan berkoordinasi antarpemangku kepentingan. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top