PASAR PROPERTI: Indonesia masih dilirik investor asing

 
Anggriawan Sugianto | 10 April 2012 17:52 WIB

 

JAKARTA: Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menarik investasi asing di sektor properti dalam beberapa tahun mendatang.

 

Rusmin Lawin, Sekretaris Jenderal Federasi Real Estate Internasional (FIABCI) Asia Pasifik, mengatakan selama Indonesia bisa menjaga stabilitas politik dan iklim makro ekonomi yang kondusif, tentunya investor asing di bidang properti tidak segan berinvestasi.

 

 “Namun yang menjadi bidikan para investor asing tersebut mungkin hanya di kota-kota besar yang masuk kategori international cities yakni Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, serta Pulau Bali,” katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa 10 April 2012.

 

Kota tersebut masuk dalam kategori international cities karena memenuhi sejumlah persyaratan antara lain memiliki intensitas hubungan ekonomi yang kuat dengan luar negeri dan frekuensi jadwal penerbangan internasional yang tinggi.

 

Rusmin menambahkan berdasarkan laporan lembaga riset dunia, DTZ , yang bertajuk The Great Wall of Money, kawasan Asia Pasifik tetap memimpin dalam penyerapan investasi untuk real estate komersial dengan prediksi peningkatan modal yang masuk sebesar 33% yang berasal dari luar kawasan tersebut.

 

“Demikian juga hasil kajian lembaga survey international CB Richard Ellis yang menempatkan Jakarta sebagai kota yang paling tinggi dalam real estate yields, dibandingkan dengan kota-kota lainnya di kawasan Asia Pasifik,” jelasnya.

 

Kawasan ASEAN

 

Sebagian besar investor asing di bidang properti berasal dari kawasan ASEAN, terutama Singapura dan Malaysia. Investor properti asal Timur Tengah juga berpotensi untuk memasuki pasar Indonesia.

 

Pengembang properti asing yang telah memasuki pasar Indonesia salah satunya adalah Keppel Land asal Singapura yang menggandeng PT Modernland Realty Tbk dan membentuk perusahaan joint venture PT Mitra Sindo Sukses. Proyek yang digarap adalah Jakarta Garden City.

 

Berdasarkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi total penanaman modal asing (PMA) sepanjang tahun lalu dari Singapura mencapai US$5,1 miliar, Jepang  sebesar US$ 1,5 miliar, Amerika Serikat menyumbang US$ 1,5 miliar,  Belanda dengan US$ 1,4 miliar dan Korea Selatan sebesar US$ 1,2 miliar.

 

“Yang patut dicermati, jika Indonesia ingin menarik lebih banyak investor asing di bidang properti atau real estate, harus ada konsistensi dari pemerintah pusat maupun daerah dalam merumuskan kebijakan soal ini,” tegas Rusmin.

 

Sebelumnya,  diberitakan dalam The Wealth Report 2012 yang dirilis Knight Frank, Indonesia tidak mampu bersaing dengan Hongkong, China, maupun Singapura sebagai lokasi rumah kedua bagi orang super kaya di Asia Pasifik dengan aset minimal US$100 juta yang menjadi subyek riset tersebut.

 

Hasan Pamudji,  Senior Research Manager Lembaga Konsultan PropertiKnight Frank Indonesia, mengatakan hal ini disebabkan pembatasan kepemilikan properti bagi warga asing, walaupun rerata harga tanah di Indonesia lebih murah dibandingkan dengan Singapura maupun Malaysia. (ea)

 

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top