IMPOR BROILER: industri unggas Indonesia guncang

 
Yeni H. Simanjuntak | 09 April 2012 19:19 WIB

 

 

JAKARTA: Industri perunggasan mengkhawatirkan ancaman impor daging ayam broiler dari Brasil yang dipastikan akan memukul pelaku peternakan di Tanah Air.

 

Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Tri Hardiyanto mengatakan harga daging ayam dari Brasil lebih murah dibandingkan dengan harga di dalam negeri. Brasil, katanya, sedang gencar untuk dapat memasukkan daging ayam ke Indonesia.

 

"Berdasarkan peraturan, impor daging dan karkas ayam diperbolehkan. Brasil sedang berupaya keras agar dapat memasukkan [karkas ayam] ke Indonesia. Industri perunggasan skala besar yang ketakutan, kami peternak skala kecil tidak merasa terancam," ujarnya seusai Rapat Terbatas Pelaku Perunggasan dengan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Senin, 9 April 2012.

 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengakui daya saing perunggasan nasional masih kalah bersaing dibandingkan industri sejenis di Brasil.

Hal itu disebabkan berbagai faktor seperti ketergantungan Indonesia terhadap impor jagung sebagai bahan baku pakan ternak dan mutu bibit ayam atau day old chicken (DOC) yang kurang berkualitas."Daya saing kita juga masih rendah. Kuncinya adalah input dari industri perunggasan. Jika input tidak efisien, maka kita kalah bersaing," jelasnya.

Dia membandingkan bahan baku pakan ternak di Brasil sudah tercukupi dari dalam negeri, sedangkan Indonesia masih mengimpor jagung. "Mereka [Brasil] sudah self sufficiency [swasembada] untuk jagung."

 

Sudirman mengakui tidak khawatir dengan ancaman tersebut seperti yang dikatakan oleh Gopan bahwa industri perunggasan skala besar yang akan terpukul dengan impor karkas ayam dari Brasil tersebut. Menurutnya, impor jagung pada tahun lalu, katanya, mencapai 3,5 juta ton senilai Rp8 triliun.

 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro mengakui saat ini ada perbedaan pandangan di antara pelaku peternakan di Tanah Air yang harus segera diselesaikan.(msb)

 

Sumber : Sepudin Zuhri

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top