INDUSTRI KEHUTANAN: Pengembangan hasil bukan kayu mulai diminati

JAKARTA: Industri kehutanan memasuki babak baru didorong peluang investasi pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) tanpa celah di kawasan hutan produksi, lindung, dan konservasi alam.Padahal, banyak pihak sempat beranggapan industri kehutanan tengah
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 09 April 2012  |  10:48 WIB

JAKARTA: Industri kehutanan memasuki babak baru didorong peluang investasi pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) tanpa celah di kawasan hutan produksi, lindung, dan konservasi alam.Padahal, banyak pihak sempat beranggapan industri kehutanan tengah menuju fase tenggelam akibat kesepakatan moratorium izin hutan yang dicapai Mei tahun lalu. Moratorium itu sontak menutup kesempatan investor baru yang ingin mencicipi manisnya kue bisnis di sektor kehutanan.Namun, gairah industri beringsut mengapung lagi ke permukaan. Jargon ekonomi hijau mulai didengungkan sepekan terakhir seolah ingin menjawab sentilan kampanye lingkungan yang terus disampaikan Greenpeace dan WWF yang berdiri berseberangan dengan dunia industri.Selain itu, pemerintah bergerak cepat menyempurnakan PP Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka dan Pelestarian Alam. PP tersebut menjadi payung hukum yang menghalalkan pengembangan industri HHBK di seluruh kategori hutan.Tanaman pangan dan energi terbarukan akan lebih diprioritaskan menjadi penggerak industri HHBK. Kontribusi HHBK untuk penyediaan pangan akan didesain dengan pola tumpang sari, dan diharapkan berkontribusi 19,3 juta ton guna menjamin ketahanan pangan nasional.Sejumlah investor mulai tertarik. Salah satunya yakni PT Sampoerna Agro yang mengendus potensi ekonomi dari pengembangan komoditi sagu di kawasan hutan.SGRO telah menggelontorkan dana hingga US$ 12 juta dalam upaya mengakuisisi 75,5% saham PT National Sago Prima yang limbung akibat kekurangan modal.SGRO juga berencana menyiapkan dana hingga US$ 13 juta untuk rehabilitasi dan penanaman kembali di lahan perkebunan sagu seluas 21.600 hektar. Dana tersebut juga akan dipakai untuk membangun pabrik sagu berkapasitas 100 ton per hari.“Produktivitas sagu kini paling tinggi ketimbang komoditi karbohidrat lainnya seperti tapioka, beras, kentang dan lainnya. Bahkan, potensi pasar sagu bisa menyaingi tapioka yang saat ini banyak dipergunakan sebagai bahan baku industri makanan,” ujar Achmad Hadi Fauzan, Director Corporate Affairs PT Sampoerna Agro kepada Bisnis, Senin 9 April 2012.(ra)

 

BACA JUGA

Penjualan mobil bekas naik

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top