INDUSTRI PLASTIK: Tahun ini, tumbuh 7%

 
Nancy Junita | 09 April 2012 18:46 WIB

 

 

JAKARTA: Konsumsi plastik pada 2012 diperkirakan akan melebihi 3 juta ton atau tumbuh 7% dibandingkan dengan konsumsi 2011 yang sebanyak 2,8 juta ton.

 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas) Budi Susanto optimistis kenaikan harga minyak dunia tidak berpengaruh pada tren konsumsi plastik di Indonesia yang pada kuartal I/2012 sudah melampaui 750.000 ton.

 

Konsumsi tersebut, menurut dia, didominasi oleh kebutuhan atas polipropilena (PP) dan polietilena (PE) yang mencapai 70% dari total konsumsi.

 

“Karena itu saya optimistis tahun ini bisa lewat 3 juta ton. Pada awal tahun kami sempat khawatir karena angka Januari stagnan,” katanya, Senin, 9 April 2012.

 

Namun, Budi memaparkan  40% dari konsumsi domestik sepanjang kuartal I/2012 harus dipenuhi oleh produsen plastik hulu luar negeri.

 

Dia mengungkapkan produsen dalam negeri masih belum belum bisa memasok seluruh kebutuhan industri plastik hilir domestik meskipun saat ini beroperasi pada kapasitas penuh.

 

Tahun ini, produksi plastik domestik diperkirakan hanya bisa mencapai 2,5 juta ton atau 83% dari perkiraan konsumsi plastik.

 

“Produksi running full, kecuali untuk produksi PP karena Politama [Propindo] belum bisa beroperasi penuh karena sempat ada masalah pasokan bahan baku,” kata Budi.

 

Impor PP pada 2011 mencapai 637.000 ton atau lebih dari setengah kebutuhan domestik pada tahun lalu.

 

Konsumsi PP domestik pada 2011 mencapai 1.108.000 ton dan diperkirakan meningkat menjadi 1.258.000 ton pada 2012.

 

Budi menambahkan saat ini produsen plastik hulu juga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku produksi, terutama propilena.

 

Kelangkaan tersebut, jelasnya, membuat harga propilena semakin tinggi di pasar global yang kemudian mendongkrak harga PP dari sekitar US$1.300 per ton pada akhir 2011 menjadi US$1.800 per ton.

 

Oleh karena itu, Budi berharap Pertamina segera merealisasikan rencana pembangunan pabrik rafinasi minyak bumi Cilacap dan Balongan agar persediaan bahan baku plastik bisa dipenuhi dari dalam negeri.

 

Sebelumnya, Presiden Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Tjokro Gunawan menjelaskan kenaikan PP tidak terlalu berpengaruh pada kinerja industri plastik hilir.(msb)

 

 

Tingkat harga yang rendah, menurut dia, justru menunjukkan kelesuan konsumsi plastik dunia termasuk pelanggan industri plastik hilir Indonesia di dalam dan di luar negeri.(msb)

 

Sumber : Demis Rizky Gosta

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top