DATA PERDAGANGAN: RI & China bahas perbedaan data

JAKARTA: Pemerintah Indonesia tengah membahas perbedaan data perdagangan dengan China dan berniat mencari solusi melalui peningkatan pengawasan perdagangan internasional. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan selama ini neraca perdagangan
Erlan Imran
Erlan Imran - Bisnis.com 09 April 2012  |  20:33 WIB

JAKARTA: Pemerintah Indonesia tengah membahas perbedaan data perdagangan dengan China dan berniat mencari solusi melalui peningkatan pengawasan perdagangan internasional. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan selama ini neraca perdagangan Indonesia selalu tercatat mengalami defisit terhadap China. Anehnya, pemerintah China juga mengaku terjadi defisit dengan impor Indonesia. "China mengaku datanya defisit, tapi kita juga defisit terhadap China, nah ini di mana salahnya, harus dituntaskan," ujar Hatta usai menghadiri pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri China di Jakarta, Senin, 9 April 2012. Menurut Hatta, perbedaan data perdagangan bisa terjadi karena adanya penyelundupan barang ilegal. Selain itu, dapat pula disebabkan praktik penghindaran pajak dengan memanipulasi transfer pricing. Berdasarkan situs Ditjen Pajak, transfer pricing merupakan harga transfer barang atau jasa yang dikirim perusahaan afiliasi dalam satu grup perusahaan. Pada umumnya, manipulasi data volume barang dilakukan perusahaan multinasional dengan tujuan pergeseran penghasilan kena pajak. Perbedaan neraca perdagangan, Hatta menyampaikan bisa juga terjadi karena penerimaan data yang tidak akurat dari oknum tertentu. "Misalkan apakah produk CPO atau batu bara seharusnya diekspor sepuluh tapi hanya diakui sembilan. Kalau ini terjadi harus diluruskan karena merugikan negara," katanya. Menurut dia, kedua negara tidak perlu menggunakan lembaga independen internasional untuk mengatasi perbedaan data perdagangan. Pemerintah, ujarnya, hanya perlu melakukan penertiban dan peningkatan pengawasan perdagangan, baik ekspor maupun impor. (01/tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top