INDUSTRI PERHOTELAN: PHRI, jangan perang harga

 
News Editor | 09 April 2012 18:54 WIB

 

 

YOGYAKARTA: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia DIY menghimbau agar hotel tidak melakukan perang tarif, seiring bertambahnya sejumlah hotel baru di provinsi ini, meski mendorong terjadinya persaingan ketat.

 

Ketua PHRI DIY, Istidjab M Danunagoro mengatakan semakin maraknya pertumbuhan hotel bintang di DIY memungkinkan terjadinya perang tarif, terutama saat musim sepi tamu atau  low season. Hotel  berusaha menurunkan tarif atau memberikan diskon untuk menarik para tamu.

 

“Kami himbau agar harga atau tarif batas bawah untuk hotel bintang harus ditaati, sehingga tidak menurunkan harga selama low season ini karena akan merugikan hotel non bintang," ujarnya, Senin, 9 April 2012.

 

Untuk tarif hotel, lanjutnya,  bintang lima misalnya sebesar Rp800.000  per kamardan hotel bintang empat sebesar Rp700.000.

 

 

“Sebenarnya, meski tidak menurunkan tarif, hotel bintang pasti akan terbantu dengan adanya Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) . Sementara hotel melati mayoritas hanya mengadalkan reservasi kamar," tuturnya.

 

Hingga saat ini, okupansi hotel-hotel di DIY rata-rata selama low season awal tahun ini mencapai 65%.

 

Dia mengakui PHRI  yang berfungsi sebagai mediator antar hotel juga belum mempunyai aturan tertulis yang mengatur tarif hotel yang bersifat mengikat, termasuk sanksi jika hotel melakukan aksi banting harga.

 

"PHRI pernah membuat semacam patokan tarif hotel namun sifatnya tidak mengikat pelaku hotel, sehingga saat ini yang berlaku tetap hukum pasar. Jika demand kecil, otomatis hotel menawarkan harga promo dan menurunkan tarif," ujarnya.

 

Sekretaris PHRI DIY, Deddy Pranowo Ernowo mengatakan perlu upaya duduk bersama pelaku perhotelan untuk mengatasi agar tidak terjadi perang tarif. Dunia perhotelan DIY memerlukan aturan, terutama untuk melindungi hotel kelas melati yang tergolong industri kecil menengah (UKM).

 

"Jangan sampai penambahan hotel nantinya menjadi bumerang bagi perhotelan DIY yang akan merugikan berbagai pihak terutama hotel kecil di DIY ini," tuturnya.(msb)

 

Sumber : Alfin Arifin

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top