REVITALISASI BANDARA: Konsep Aerotropolis masih sulit diwujudkan

 
nonaktive - Arif Gunawan Sulistyono | 08 April 2012 15:48 WIB

 

JAKARTA: Pengembangan bandara di Tanah Air dengan mengusung konsep Aerotropolis sulit diterapkan, karena keterbatasan lahan, sehingga pemerintah daerah diminta lebih proaktif dan menjadi inisiator. 
 
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti Singayuda Gumay mengatakan Kementerian Perhubungan meminta pemerintah daerah untuk lebih proaktif mengembangkan bandara di kawasannya menjadi bandara berkonsep Aerotropolis karena selama ini banyak mengalami kendala seperti keterbatasan lahan.
 
“Belum ada bandara yang menggunakan konsep Aerotropolis di Indonesia, dengan demikian butuh peran aktif pemerintah daerah untuk menyukseskan konsep ini,” katanya hari ini.
 
Dia menambahkan konsep Aerotropolis merupakan strategi baru dalam perencanaan bandara dan pemanfaatan lahan untuk kegiatan komersial secara simultan. Namun, implementasinya mengalami kendala sehingga bandara hanya mampu mengambil konsep sebagian. 
 
Adapun kendala dalam mengimplementasikan konsep Aerotropolis, imbuh Herry, antara lain keterbatasan lahan pengembangan, akses menuju bandara, maupun rencana tata ruang wilayah (RTRW). Di sisi lain, akan menimbulkan polemik sosial, seperti pertumbuhan angkutan umum, hingga pedagang kaki lima atau asongan.
 
“Inisiator untuk konsep Aerotropolis bisa diajukan siapa saja. Tetapi yang paling utama, pemerintah daerah karena harus ada lahannya. Pengelola bandara bisa mengusulkan ke pemerintah. Sebagai inisiator, idenya akan ditangkap pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, Menko Perekonomian, Wakil Presiden, dan Presiden, akan dikoordinasikan. Nanti akan dibentuk tim yang paling utama konsep ini adalah pemdanya,” lanjut Herry.
 
Menurut dia,  konsep Aerotropolis membutuhkan komitmen antara pemerintah pusat dengan pemangku kepentingan atau stakeholder, antara lain maskapai, bandara, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menetapkan kebijakan khusus, seperti pembebasan biaya bea cukai atau duty free maupun zona perdagangan bebas atau free trade zone. 
 
Herry menuturkan nilai jual dalam konsep Aerotropolis adalah lokasi yang berdekatan dan konektivitas yang cepat antara suppliers, costumers, dan mitra perusahaan nasional maupun internasional. 
 
Konsep ini terdiri dari fasilitas-fasilitas komersial yang mendukung bisnis maskapai dan bisnis aviasi lainnya, akibat dari jutaan penumpang yang melakukan perjalanan melalui bandar udara setiap tahunnya.
 
Soekarno—Hatta
 
PT Angkasa Pura II, misalnya,  akan mengembangkan Bandara Soekarno-Hatta dengan konsep Aerotropolis senilai Rp11,75 triliun untuk tahap awal, dan ini akan menjadi proyek percontohan pertama di Indonesia.
 
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S. Sunoko mengatakan pihaknya mengembangkan Bandara Soekarno-Hatta berkonsep Aerotropolis, dengan target awal mampu menampung 62 juta penumpang yang diproyeksikan selesai pada 2015. 
 
Selanjutnya, akan dipikirkan untuk mengembangkan kembali untuk 90 juta penumpang dengan membangun terminal 4 dan runway ketiga.
 
“Grand desain pengembangan Bandara Soekarno-Hatta yang diperkirakan menelan dana Rp11,75 triliun ini menjadi proyek percontohan pertama di Indonesia untuk bandara berkonsep Aerotropolis,” tutur Tri Sunoko.
 
Dalam grand desain Bandara Soekarno-Hatta akan dikembangkan sejumlah proyek yakni pengembangan kapasitas terminal 3 dari 4 juta menjadi 25 juta penumpang per tahun yang dimulai tahun ini, ekspansi terminal 1 dari 9 juta menjadi 18 juta penumpang dimulai 2013, ekspansi terminal 2 dari 9 juta menjadi 19 juta mulai 2013, pengembangan terminal kargo menjadi 1,5 juta ton pada 2013, membangun integrated building terminal 1 dan 2 pada 2012, jalur kereta api, dan kedepannya ekspansi pengembangan terminal 4 dan landasan pacu ketiga pada 2015, tergantung pembebasan lahan. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top