ANGKASA PURA II pacu omzet non-aeronautika

 
Arif Gunawan Sulistyono
Arif Gunawan Sulistyono - Bisnis.com 06 April 2012  |  14:20 WIB

 

 JAKARTA: PT Angkasa Pura II memacu pendapatan non-aeronautika untuk menutupi potensi kehilangan pendapatan dari air traffic services (ATS) Rp120 miliar per tahun mulai tahun ini.
 
Kehilangan pendapatan Angkasa Pura (AP) II dari ATS ini seiring rencana pemerintah  mengoperasikan Perusahaan Umum (Perum) Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (PPNPI) pada tahun ini.
 
Direktur Utama AP II Tri S. Sunoko mengatakan keberadaan PPNPI akan mengambil alih layanan jasa pengaturan lalu lintas penerbangan atau ATS yang selama ini dikelola AP II melalui Jaringan Automated Air Traffic Control Systems (JAATS). 
 
“Selama ini pendapatan ATS Rp470 miliar per tahun dengan biaya operasionalnya Rp350 miliar. Kalau nanti memang badan itu beroperasi, potential loss pendapatan kami hanya Rp120 miliar,” katanya kemarin.
 
Dia menjelaskan pendapatan dari jasa pengelolaan ATS ini termasuk dalam pendapatan aeronautika. 
 
Pendapatan dari aero ini masih mendominasi pendapan perusahaan yakni 70%, sisanya 30% dari non aeronautika. "Dengan adanya PPNPI, porsi non aero akan kami genjot lagi," tutur Tri.
 
Untuk menggenjot pendapatan non aero ini, lanjutnya, Angkasa Pura II akan memaksimalkan fungsi bandara selain untuk penumpang berangkat terbang, juga untuk berbelanja dan jasa lainnya.
 
"Sebagai contoh, kami sudah kerjasama dengan perusahaan asing yang kompeten seperti Incheon untuk mengembangkan fungsi bandara agar menggenjot pendapatan non aero, salah satunya di Bandara Kuala Namu Medan dan Soekarno-Hatta Jakarta dengan konsep pengembangkan aerotropolisnya," tuturnya.
 
Tri menyebutkan sepanjang 2011 pendapatan AP II mencapai Rp3,48 triliun atau naik 12,25% dibandingkan realisasi 2010 Rp3,1 triliun. Kenaikan pendapatan tidak sebanding lurus dengan laba bersih. Laba setelah pajak justru turun 3,7% menjadi Rp998,75 miliar dari 2010 sebesar Rp1,03 triliun.
 
“Pada 2012, kami menargetkan pendapatan konsolidasi tumbuh 15% menjadi Rp3,4 triliun dari tahun lalu, sedangkan laba bersih menjadi Rp1,6 triliun,” ungkapnya.(sut)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top