HARGA BBM: Wamen ESDM wacanakan bensin beroktan 90

 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 April 2012  |  20:19 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah mengusulkan agar PT Pertamina  bisa menyediakan bensin beroktan 90 atau campuran antara Premium yang beroktan 88 dan Pertamax yang beroktan 92. 
 
Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan harga bensin beroktan 90 atau ‘Premix’ itu bisa sebesar Rp7.250 per liter. 
 
“Jadi kita sediakan ada Premix Ron 90,” ujarnya dalam Forum Group Discussion  hari ini. 
 
Dengan demikian,  mobil mewah yang selama ini masih mengkonsumsi BBM bersubsidi yang bukan haknya, dan dia juga tidak mau mengkonsumsi Pertamax nonsubsidi, diharapkan bisa beralih ke ‘Premix’. 
 
Sementara itu dihubungi terpisah, Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan Premium dan Pertamax bisa saja dicampur. Namun, harga bensin beroktan 90 itu tidak beda jauh dengan Pertamax dan tidak bisa ditekan menjadi Rp7.250 per liter. 
 
“Bisa aja, tapi harganya ngga jauh beda dengan Pertamax. Bedanya yang RON 90 itu paling Rp200 dengan yang Pertamax,” jelas Harun. 
 
Menurutnya, jika Premix direalisasikan pun, maka disparitasnya masih tinggi dengan Premium bersubsidi. Saat ini besaran subsidi untuk Premium dinilai sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan harga pasarnya. 
 
Harun mengatakan jika pemerintah ingin harga Pertamax rendah dan bedanya tidak terlalu jauh dengan Premium, pemerintah bisa memberikan insentif berupa penghapusan pajak yang dibebankan pada Pertamax. 
 
“Kalau mau pemerintah kasih insentif, pajaknya dihilangkan semua. Bayangkan kalau Rp10.000 [harga Pertamax] dikurangi Rp1.500, harganya jadi Rp8.500. Tapi apa pemerintah mau menghilangkan pajak itu?,” ujarnya. 
 
Konversi ke CNG
 
Pada kesempatan yang sama saat Forum Group Discussion, Yayasan Teknologi, Energi dan Inovasi Indonesia (Tenov) dan Dewan Pakar Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November (IKA ITS) menyarankan pemerintah sebaiknya lebih memilih CNG (Compressed Natural Gas) dibandingkan dengan LGV (Liquefied Gas for Vehicle), dalam program konversi BBM ke bahan bakar gas. 
 
Ferry Dzulkifli, Direktur Eksekutif Tenov mengatakan CNG yang berasal dari gas bumi mempunyai ketersediaan lebih banyak dibandingkan dengan LGV yang berasal dari pengolahan minyak bumi. 
 
Menurutnya, biaya bahan baku dan proses pengolahan LGV juga lebih mahal daripada CNG. Selain itu, harga eceran CNG jika Rp4.100 per liter setara Premium (LSP), dinilai lebih menarik daripada harga LGV keekonomian Rp8.590 per LSP. 
 
Tenov juga merekomendasikan agar pemerintah menyediakan regulasi yang jelas terkait ketersediaan pasokan gas untuk kendaraan bermotor dan pembangunan SPBG-nya. Pemerintah juga dinilai perlu membuat standar yang jelas untuk pembangunan SPBG. Untuk lokasinya, lahan untuk SPBG perlu diatur agar berdekatan dengan jalur pipa gas dan jalur konsumen. 
 
“Kemudian untuk perizinannya juga, birokrasinya perlu dipangkas agar biayanya lebih murah,” ujar Ferry. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top